Friday, September 22, 2017



The way you treat the others defines who you are... 

Tuesday, September 19, 2017

Sebenarnya ingin kutanya: "mau kubawakan apa?" Tapi katamu dulu: "surprise me!" 

Sunday, September 17, 2017

Kota ini mulai merayap masuk ke sedalam-dalamnya hatiku. Pada piano yang berdenting di taman kota; Pada anginnya yang seringkali tidak santai; Pada pasangan yang menua bersama; dan pada waktu yang mulai terbiasa kunikmati denganmu.

Wednesday, September 13, 2017





I can’t wait for the day that life makes sense – some days I understand why certain things happened and others I’m not so sure, but all I know is that somehow we’ll connect the dots and someday we’ll complete the puzzle, until then, we have to learn how to live our lives without trying to understand it and we have to learn how to be comfortable with the irony and uncertainty of life; otherwise we’ll lose our common sense trying to make sense of the life we’re living.

~Rania Naim~

Friday, September 08, 2017



Aku tak bisa ke center hari ini. Lihat! Di luar hujan! Perkiraan cuaca bilang di luar akan lumayan dingin. Sedangkan, di kamarku lumayan hangat. Jadi aku memutuskan tinggal di dalam rumahku yang nyaman. Duduk dekat jendela, menikmati suara tetes hujan memukul-mukul kacanya. Dedaunan dan ilalang mulau mengabarkan kedatangan autumn. Langit kelabu, tirai hujan, dan warna-warni alam memanjakan mata dan imajinasiku pagi ini.

Wednesday, September 06, 2017

Aku ingin bercerita banyak, tentang hijau yang menghampar pagi ini, tentang langit yang dipresiksi menangis seharian ini, tentang tugasku yang sedikit lagi bisa disubmit.

Aku juga ingin berbagi banyak hal, ada teh hangat yang mengepul disela-sela jemariku, ada angin yang sejuk memeluk tubuhku, ada roti bakar dengan mentega dan gula pasir favorit kita dulu, dan ada rindu yang terlalu berat untuk kutanggung sendiri.

Aku ingin melalui banyak hari, ingin bertengkar lalu berdamai berulang kali, ingin melindungi dan dilindungi, menguatkan dan dikuatkan, berjalan, jatuh, dan bangkit lagi, bersamamu.

Bersamamu, penenang paling juara di dunia. Pendengar paling sabar sejagad raya. Pembujuk nomor satu. Sahabat yang paling bisa kuandalkan. Tempatku selalu kembali, lagi dan lagi, setelah lelah mengembara, setelah puas melihat dunia. Pemilik senyuman yang selalu lebih dulu muncul di matanya kemudian di bibirnya.  Pribadi dengan hati yang paling hangat yang pernah kutemui. Satu-satunya di muka bumi. Satu-satunya di muka bumi.

Selamat ulang tahun. 
Perahuku, yang terbuat dari kertas itu, yang warnanya hitam itu, yang dulu kubuat saat sedang mengingatmu, yang lalu kutempel pada cermin di kamarku di Deans, yang tempelannya pake selotip, yang pernah hampir lepas tapi kurekatkan lagi lebih kuat, kini berlayar di tempat yang baru.

Perjalanan kali ini, mungkin tidak sendiri. Mungkin. 

Tuesday, August 29, 2017

"Dalam lingkaranku, jarang aku menemukan anak science yang suka sastra. Apalagi, jika penulisnya bukan berasal dari negara yang sama dengannya." 

"Kata siapa? Buktinya kau membaca Shakespeare juga kan?"

"Iya, waktu kuliah dulu. Karena di suruh. kewajiban. Dan aku memang dulunya anak Bahasa."

"Trus?"

"Trus, aku takjub aja. Kamu anak science, bacaannya malah Sapardi Djoko Damono dan Pramoedya."

"Yee. Sastra indo itu keren."

"Hmmm..."

"Sudah baca,,, bla,, bla,, bla..."

"Belum."

"Aku punya bukunya. Besok kubawakan."

"OK."

Sunday, August 27, 2017

From where I sit this morning

Sudah. Semalam sudah kuhabiskan untuk mengisi ulang energiku. Terlelap dalam keadaan lega dan bahagia. Alhamdulillah, ketika pagi datang, nafas masih di badan. Lalu, bergegas megerjakan apa yang seharusnya dikerjakan di waktu matahari merambat naik: Sarapan, mandi, dan bersiap menjalankan hari.

Biru. Langit Bristol biru sekali pagi ini. Awan sepertinya absen, ingin menikmati liburan juga di tempat  lain. Sumringah, bibir-bibir melengkung disela-sela obrolan hangat. Dari balik jendela, gadis cilik berbalut gaun pink berhenti berlari demi dikecup hidungnya oleh ayahnya. Ibunya menyusul segera. Ada rona merah muda di pipinya.

Seperdelapan terisi. Beacon House seperdelapan terisi pagi ini. Belum riuh seperti waktu siang atau sore dan malam. Aku suka. Aroma caffein dan cokelat hangat menguar di udara. Samar-samar aroma roti bakar dan keju yang meleleh bergabung berdansa memenuhi langit-langit. Feels like home. Aku suka.

Musical. Keletak-keletok bunyi keyboard laptop yang ditekan-tekan para pejuang akademik menjelma musikal di telingaku. Yang di ujung sana, seolah terhisap oleh dunia di dalam layar laptopnya. Yang baru datang, setengah berlari mentransfer semangat lewat tepukan persahabatan kepada temannya. Tepukan itu beresonansi. Aku ikut tersapu gelombangnya.

TB! Benar! Itu TB yang barusan banget masuk. Ditangannya bergantung sebotol air mineral. Sikap tubuhnya dalam keadaan siap menuntaskan beban akademik yang dia panggul dipundaknya. Mata kami saling tersenyum dan menyemangati ketika bertemu pandang. Kulihat, ada bekal semangat dari Mbak Mae dan Vira di sana. Dia dalam posisi siap tempur dan berniat pulang dengan oleh-oleh progress yang cukup signifikan untuk dipersembahkan kepada keluarganya. Aku juga ketularan semangat itu.

Tandas. Gelas kopiku sudah tandas. Masuk sudah ke sistemku ramuan hitam yang ingredientnya berupa zat anti kantuk, larutan penambah fokus dan suntikan berbagai semangat. Artinya, aku sudah siap melanjutkan perjalanan lagi bersamamu, duhai essay. Mari saling bergandengan tangan. Hari ini cantik sekali. Sempurna untuk kita menuntaskan perjalanan.


Saturday, August 26, 2017

Janin-janin dalam fikiranku urung lahir hari ini. Aku keguguram berkali-kali. Ada yang  dengan tega sengaja kuaborsi, ada yang memang memilih untuk hanyamerasa nyaman dalam rahim kepalaku. Menari-nari dalam kegelapan. Dia harakiri ketika kuminta keluar ke dunia bernama paper.  Menyebalkan.

Bising camar dan gagak berkaok-kaok di luar sana. Kalau Sukma dengar pastilah dirinya akan menggerutu dan mengutuk. Tapi bagiku, bahkan kaok-kaok mereka terasa sangat merdu. Jika kau bisa mendengar suara-suara hantu yang bergema di sudut-sudut kepalaku, kau akan setuju denganku. Lengkingan mengerikan unggas-unggas itu tak ada apa-apanya. Tidak ada apa-apanya.

Aku lumpuh total, ku rasa. Aku butuh bicara denganmu, ku rasa. Aku butuh mendengar kau yang berkata, "InsyaAllah, ko bisa ji, Rin. Sabar, nah.. terlewati ji itu" Suaramu menajdi candu, ku rasa. Pembujuk paling sakti mandraguna.

Fikranku adalah kobra dan kau adalah pawangnya. Satu-satunya di muka bumi. Satu-satunya di muka bumi.





Monday, August 21, 2017

On the Night Like This-Mocca



On the night like this
There's so many things I want to tell you
On the night like this
There's so many things I want to show you

Cause when you're around
I feel safe and warm
When you're around

I can fall in love every day

In the case like this
There are a thousand good reasons
I want you to stay...



..............................................................


If you  know what I mean.
Call me, OK.

Yang memilih tidak pergi

Ini kutulis sebagai ucapan terimakasih.
Untukmu, yang memilih untuk tak pernah pergi.
Walau aku telah bermilyar kali mengira begitu.

Di tepiku yang sekarang, terseok-seok menajdi dewasa,
Ada engkau yang berani dan selalu sabar mengikis jarak.
Pada setiap kali kau balas WAku yang sepele, dan selalu berakhir dengan Video call.

Yang kutahu, ada satu yang tak mudah berubah diantara kita.
Di luar semua kesalahfahaman dan keegoisanku dan tuntutanku.
Aku menyayangimu. Kau menyangiku.
Dengan cara yang tak sama, kukira. Itu adalah fakta.

Tapi, apapun itu, terimakasih untuk selalu di situ.
Melayani semua keabsurdanku. Menerima telepon tak pentingku,
yang seringkali abai pada 8 jam perbedaan waktu di tepiku dan di tepimu.
Kau punya seluruh alasan untuk beranjak, tapi nyatanya tidak.

Mau kukatakan sekarang, sebelum aku gengsi lagi.
sesungguhnya suaramu menenangkanku.
Senyummu menguatkanku.
Itu membuatku ketergantungan. Kecanduan.
Teruslah begitu. Jangan tinggalkan.

Kumohon.
Jangan tinggalkan.