Friday, August 18, 2017

Jreng.. jreng... jrengg...

Penyakitku kumat lagi. Yang tiba-tiba pengen banget nulis, trus moodnya hilang ditengah jalan. Sudah semingguan ini, aku beberapa kali mengalaminya lagi. Hari ini malah sudah ada tiga tulisan yang harus pasrah berakhir di draft. Kalau postingan yang ini juga tak berakhir, maka ini akan jadi yang ke empat. Huufftt...

Tulisan yang pertama, sebenarnya cerita tentang Bristol International Balloon Festival 2017. Dari beberapa hari pengen nulis, cuman kerempongan dalam mengurus akom baru memaksa semua kalimat untuk menceritakan event itu untuk diam saja di kepala. Tulisan kedua yang mengalami nasib serupa adalah tentang cerita seru bertemu Mbak Gida di London dan cerita tentang untuk kesekian kalinya explore kota cantik nan sexy itu bareng Sukma. Yang ketiga adalah, tips dan trik mengurus visa schengen dari UK bagi mahasiswa yang sedang berkuliah di Inggris, setelah mendengar curhatan Rizal kalau aplikasi visa schengennya dan Randy kemaren bermasalah.

Hari ini, keinginan menulis itu besar sekali di awalnya, tapi ya itu,, pas di tengah-tengah, kebosanan melanda, hahaha. Tapinya, aku mau balik baca jurnal dan lanjut ngessay moodnya juga ilang. Ya sudahlah, aku ke sini lagi deh, tapi bukan untuk menuntaskan draft-draft itu, tapi malah bikin postingan asal ini 😝. Sambil menulis ini, sekelebat muncul penggalan-penggalan kata yang entah sejak kapan secara tak sadar ternyata aku tunggu.

"Studying?" 
                "Hungry already?" 
     "Nah, now your turn!"
                                                        "You choose!"
                                                               "Just wanna say hi"
                                    "So bored. Wanna grab some ice cream?"
                     "Nice shot"
                                                                                "Just hit my pillow"
                                                                                                      "See you tom"

                    "Nah, you'll be fine"

          "Just call me anytime" 
     "Tom. Lunch time. My place." 


Tapi entahlah, mungkin ini tak berarti apa-apa. Dan aku memutuskan pulang dan baca novel dan tidur. Besoklah kita jumpa lagi, essay. EH salah ding, lusa. Besok aku mau upacara bendera dalam rangka 17an. Aku dirigennya. Sayang, dianya tidak ada.


Sunday, August 13, 2017

Live for this very moment

Well, tulisan kali ini adalah tulisan yang berakhir di draft, dua hari yang lalu.

Sesekali space botton di lappy kutekan untuk mem"pause" film yang sedang kami tonton malam ini. Karena, dalam beberapa adegan, kami merasa perlu mengambil jeda untuk sekedar berkontempelasi, mendiskusikan dan mengait-ngaitkan cerita dalam film itu dengan kehidupan kami masing-masing. Aku beberapa kali berflashback dan berupaya memetik hikmah dari sepanjang perjalanan hidup ku. Popocorn, croissant, biscuits dan teh sudah hampir setengahnya habis. Terkadang kami terpingkal-pingkal dan berkaca-kaca dalam proses refleksi bersama itu. Lalu, ketika tersadar jika kami belum menyelesaikan filmnya, kami lanjut lagi. Dan pause lagi, dan lanjut lagi.

Well, film ini film India. Film yang sama sekali bukan "aku" banget. Kalau bukan karena suntuk berurusan dengan essays dan urusan akom yang sensasinya sudah seperti naik roller-coaster dan bujukan Sukma yang "racun" itu, aku tidak akan mau menontonnya. Tapi, malam ini pengecualian. Entahlah, mungkin karena Bristol lagi murung seharian, makanya rasa magerku jadi berlipat-lipat. Ke perpus juga sedang tidak mood. So, seharian, aku belajarnya di atas kasur sambil berbungkus selimut.   Rencana ke Ashton Court buat nonton festival balon udara bareng Aldi pun batal karena balonnya gak bisa terbang dengan cuaca yang seperti ini. Jadi, aku dan Sukma memutuskan malam ini bersantai di kamar saja. Dan, entah gimana prosesnya, akhirnya kami menonton film India ini. Judulnya Baar Baar Dekho.


Pic taken from here

Film ini bercerita tentang sepasang kekasih, jai dan Diya, yang sudah bersama sejak kecil dan akhirnya memutuskan menikah. Tepatnya, si wanita yang memutuskan ingin menikah dengan si pria. Si Pria adalah seorang genius, yang memiliki mimpi besar untuk menajdi seorang akademisi di Cambridge dan peluang sangat terbuka untuknya untuk mewujudkan mimpi itu. Di lain pihak, Diya merupakan seorang putri dari pria kaya raya yang sangat menyayanginya. Ketika Jai menghadap ayah Diya setelah dirinya dilamar oleh perempuan itu beberapa hari yang lalu, dan menjelaskan bahwa dirinya akan ke Cambridge, si Bapak menolak mentah-mentah rencana itu dengan alasan karena Diya tidak cocok dengan cuaca di Inggris yang dingin dan bayangan bahwa Diya akan kesepian karena tak ada sanak keluarga. Konflik pun terjadi antara Jai dan Diya. Ancaman batalnya pernikahan dan pilihan-pilihan lainnya yang harus mereka ambil mulai bermunculan.

Ketika menonton film ini, kita akan dibawa maju mundur dengan cepat. Yap,, ceritanya salah satu tokoh utama (takkan kuberi tahu siapa, biar penasaran, hehehe) mengalami lompatan waktu ke masa depan dan belakang. Ketika terbangun, tiba-tiba dia telah berada beberapa hari, bahkan tahun ke depan tanpa sedikitpun tahu apa yang telah terjadi. Ditengah kebingungannya, dia mendapati bahwa ternyata dirinya telah banyak menyia-nyiakan waktu terbaik yang dimilikinya demi mengejar mimpinya. Apa yang dia kejar membutakan dia dari kebahagiaan sejati yang sebenarnya dia butuhkan. Dengan kesuksesan karir yang dimilikinya, ternyata hatinya hampa. Singkatnya, dia menyesali beberapa bagian dari hidupnya (meski kurasa unfair karena dia sebenarnya tidak sadar kalau dia melakukan itu) dan ingin kembali ke masa lalu untuk memperbaikinya. Daaan, namanya juga film, keajaiban itu terjadi. Selanjutnya silahkan nonton sendiri, hehehe

Di luar beberapa part yang aku rasa lebay dan tak masuk akal, film ini memberiku satu pelajaran yang kurasa sesuai dengan keadaanku saat ini, yakni sebisa mungkin hiduplah saat ini detik ini. Berbahagialah. Usah risau yang berlebihan akan masa depan yang belum tentu kita datangi atau masa lalu yang bagaimanapun sudah berlalu dan tak mungkin diulang lagi, seberapapun manisnya. Hargai setiap detik yang kau punya, setiap kebaikan yang disebar oleh teman-temanmu, berbuatlah yang terbaik saat ini; untukmu dan untuk orang-orang yang kau sayangi. Do not ever take everything for granted. Kepada mereka yang telah sangat baik padamu dan punya arti dalam hidupmu, jangan ragu dan gengsi untuk menunjukkan betapa kau mencintai dan menyayangi mereka, karena kau tak tahu kapan waktu akan memisahkan kalian. Jangan biarkan yang berharga hilang begitu saja. Itulah kira-kira pesan yang bisa kutangkap dan sangat membekas untukku ketika selesai menonton film ini.

Sebagai orang yang lumayan gampang dipengaruhi oleh kisah, baik dalam film maupun buku, menonton film ini memberiku pandangan dan energi baru. Well, mungkin tidak sepenuhnya baru sih, karena konsep tentang "live for this very moment" ini sudah lama kuketahui. Cuman, kali ini pesannya sepertinya pas saja dalam kondisiku saat ini. Saat di mana aku terlalu banyak takut akan masa depan dan jarang enggan move on dari masa-masa kemaren yang manis dan melenakan sehingga lupa bahagia untuk masa sekarang. Masa yang paling real, padahal. Maka, aku memutuskan untuk membuang keluh kesah dan kecemasanku, mencoba menghargai setiap detik yang diberikan Tuhan untukku. Berupaya berterimakasih atas semua kebaikan yang dianugerahkan kepadaku: orang tua dan keluarga yang menyayangiku, sahabat yang selalu ada di setiap up and downku, pada kesempatan yang tak semua bisa dirasakan orang lain, termasuk pada ujian dan rasa sakit yang menghampiri perasaanku. Semuanya indah dengan caranya masing-masing. Aku bersyukur diberi kesempatan merasai dan mengalami berbagai emosi itu. Itu membuatku utuh, dan somehow membentukku menjadi lebih kuat dan dewasa dalam memandang segala sesuatunya, aamiin.

Maka, tak perlu menunggu lama, beberapa detik kemudian, jemariku mengetik kalimat ini:
"Assalamualaikum,,, cuman mau bilang: I love you because of Allah"
-sent to my beloved ones-

Sunday, August 06, 2017

Today's Incantation




Hello Love,

This is Sunday and you're in the study centre. Worry not, my Dear! That's not the end of the world. You're making histories, well... it might not be for the whole universe, but at least for yourself. You're in one of the best universities in the world, make sure you make the most of it. Stay focus and keep going. Here is the secret spell:

"Y.O.U. C.A.N. D.O. I.T"



Tuesday, August 01, 2017

PhD? Sebuah perjalanan sunyi?





Ditemani Chocolate Frape favorite yang kubeli di 168 (Chinese Store di Park Street), aku kembali menceburkan diri dalam lautan eh danau eh kolam daftar bacaan yang menjadi targetku hari ini. Dalam prosesnya, kadang terasa menyenangkan (tanpa sangat) dan sering bikin setress karena walaupun sudah kubaca berulang kali tetap tidak paham juga. Sigh. Kalau sudah seperti ini, aku biasanya mengambil jeda sejenak (meski sering bablas, hehehe) dengan bersosmed ria. Kalau sekarang ini, lebih ke ngecek IG sama ngeblog. Yang aku pastikan adalah jangan berhenti dari proses ini. Haram hukumnya. Karena, sekali berhenti, mau mulai lagi bisa susah.

Banyak orang bilang, lanjut PhD itu serupa dengan mengambil jalan panjang nan sunyi. Mungkin sekilas sih terlihat ringan aja ya. Masuk kelas jarang, tidak seperti teman-teman yang kuliah Master. Tapi, sebenarnya di sinilah tantangannya. Setapak yang kami lalui memang sepi. Untuk tahun pertama, yang notabene masih ada kelas saja, tak jarang kami menghilang dan bersemedi di gua pertapaan kami masing-masing. Boro-boro party-party, bersosialisasi saja sepertinya sudah malas kalau lagi masa-masa deadline. Bagiku sendiri, yang lebih terbiasa kuliah pake metode ceramah dan semuanya serba disuap, tipe independent learning ini terasa mengerikan. Bukan apa, semuanya harus diurus dan ditentukan sendiri. Dari topik apa yang akan kita bahas, pisau apa yang akan kita pakai dalam menganalisis, yang tidak pernah dibahas di dalam kelas karena kita diharapkan sudah tahu; kalaupun belum, ya cari tahu sendiri. Dosen membebaskan kita untuk mengupas topik yang kita pilih itu dengan menggunakan pisau teori apapun. No right and wrong answer. Yang dinilai adalah justifiaksi mengapa menggunakan approach tersebut dan critical thinking kita dalam menyusun argumen. Untuk sampai ke sini, banyak baca adalah suatu keharusan. Selama hampir setahun ini, sulit bagiku untuk bertanya ke orang lain jika stuck dan bingung luar biasa dikarenakan teman-teman sekelas rerata sudah bekerja dan hanya datang ke kampus jika ada kuliah. Mereka juga jarang menggunakan WA dan membuka email pada saat-saat tertentu juga. bertanya pada dosen juga rasanya tak pantas mengingat seorang kandidat PhD sudah seharusnya bisa belajar secara mandiri. Huft,,, benar-benar perjalanan sunyi.

Tantangannya adalah, dari sekian banyak bacaan itu, menentukan yang mana yang cocok dan benar-benar related itu butuh waktu dan critical thingking yang mumpuni. Soalnya, ketika membaca jurnal yang kita rasa berhubungan, semuanya kayaknya pengen dimasukkan padahal kita punya keterbatasan word count. Nah, butuh kesabaran dan skill tertentu untuk bisa memilih-milih ini. Kalau sudah begini, suka pengen nangis dan merasa bodoh. Yang memperburuk adalah ingatan tentang orang-orang yang berharap banyak pada kita, mereka yang katanya merasa terinspirasi dan kagum pada kita. Padahal, andai mereka tahu, bahwa aku sebenarnya jaaauhh dari yang mereka sangkakan itu. Aku seringkali sangat malu. Sebenarnya, disaat-saat tertentu aku menggunakannya sebagai motivasi dan penyemangat, tetapi tak jarang malah berakhir menjadi beban karena merasa telah 'menipu' mereka. Untuk menebus rasa bersalah dan berusaha mewujudkan harapan mereka, aku menghabiskan lebih banyak waktu menginap di perpus dari pada di kamar sendiri (apalagi pada saat ngejar deadline). Dampaknya jelas, kantung mata dan anjloknya timbangan, hehehe...

Dampak lain dari akumulasi setress ini adalah seringnya ada tingkah aneh-aneh dari aku dan beberapa teman kandidat PhD yang lain. Diantaranya, suka dengan isengnya godain dan ngerjain temen-temen master. kadang kami juga dinilai bertingkah absurd, hehehe. "Waduh, ini ya efek samping dari kuliah PhD? jadi mikir mau lanjut lagi, liat aja kelakuan mereka" kata beberapa teman master, hehehe. Makanya istilah PhD (Permanent Head Damage) itu menajdi semakin valid, wkwkw. Menurut salah seorang senior yang sudah hampir menuntaskan kuliah doktoralnya, jadi mahasiswa PhD memang gak boleh terlalu serius, bisa gila. Belum lagi kalau sudah masuk tahapan disertasian. Bagus kalau pembimbingnya oke, kalau dapat yang agak demanding, waduh bisa tambah pusing. Beliau menyarankan agar ritme sebaiknya dijaga. Perjalanan meraih gelar ini itu serupa marathon, bukan sprint. Tidak boleh terlalu cepat tapi juga tidak boleh terlalu santai. Kalau terlalu cepat diawal, bisa kehilangan tenaga dan mati bosan di akhir; namun kalau juga terlalu santai, bisa keteteran pada saat terakhir. Bahaya.

"Benar-benar perjuangan seorang diri ya, Mas?" tanyaku padanya. "Sebenarnya gak sendiri Mbak kalau selalu melibatkan Allah" balasnya kalem. Deg! Aku terdiam. "Bagi resep dong, Mas biar bisa istiqomah menjaga ritme dan tetap waras" tanyaku lagi. "Kalau aku, prinsipku, selalu dahulukan urusan langit. Mau itu lagi fokus banget, jika sudah tiba waktu Sholat tinggalkan kerjaan itu. Di pagi hari, tak ada barang seharipun terlewat tanpa aku mulai dengan Duha. Insyaallah hati menjadi tenang dan fikiran bisa lebih jernih" jawabnya. "Jarak dari Dhuha dan Dzuhur itu lumayan lama, Mbak. Kalau fokus, sangat cukuplah untuk bisa produktif (baik itu membaca maupun menulis), nah dan sat Dzuhur tiba, kita harus mengistirahatkan otak kita agar tidak berasap sehingga selepas solat dan makan siang dan istirahat, kita bisa melanjutkan kerja lagi. Otak sehat, jiwa tenang" Katanya sambil tersenyum. "Oh ya, satu lagi, Mbak,, waktu tidurnya di jaga, jangan begadang. Harusnya waktu kita bekerja di waktu pagi itu cukup kok, sehingga waktu malamnya bisa murni dipergunakan untuk beristirahat. Kalau diforsir, malah jadinya gak produktif, karena badan yang lelah susah untuk fokus dan membuat belajar berlipat-lipat kali lebih berat."

Duuh, bener juga siiih kata si Mas ini. Kalau aku kebalikannya, siang dipake tidur, malam dipake belajar. Padahal Allah sudah menciptakan siang untuk bekerja dan malam untuk beristirahat. Sunnatullah. Oh Ya Allah, betapa aku masih harus sangaaat berbenah. Diluar semua tuntutan akademik ini, aku merasa perjalanan sekolah dotoral ini adalah perjalanan mengenali, menaklukkan, dan memperbaiki diri sendiri di setiap menit dan detiknya. Perjalanan sunyi memang, karena yang kau hadapi adalah dirimu sendiri. Bismillah, insyaAllah aku siap memperbaiki diri. Mohon doanya juga, ya.. ^^ Semoga perjalanan kalian juga menyenangkan dan dimudahkan olehNya, aamiin.



يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، أَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ.

Ya Hayyu Ya Qayyuum, birohmatika astaghiytsu, ashliy sya’niy kullahu, wa laa takilniy ilaa nafsiy thorqota ‘aini“

Artinya: “Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri (tidak butuh segala sesuatu), dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekali pun sekejap mata (tanpa mendapat pertolongan dari-Mu).”






Sunday, July 30, 2017

Near the end



Ada pertemuan ada perpisahan. Hukum alam. tidak ada satupun yang bisa merubahnya. Aku sebenarnya sudah paham sejak lama. Tapi mau gimana ya.. rasa sedih dan haru itu tidak bisa dipungkiri dan diusir. Jadi, beberapa saat yang lalu, nge WA Ripki, salah satu saudara di Deans, untuk minta tolong bantuin pindahin barang pas tengah atau akhir agustus nanti. Ripki, yang emang baik itu langsung mengiyakan. Dan entah mengapa ide tentang packing ini sukses membuat dadaku sesak dan akhirnya malah nangis, hehehe. Kebayang deh dari awal sampai akhirnya hari ini tiba juga. Rasanya baruuuu kemaren di jemput Ripki di Coach Station dan dianterin ke kamar 46 E. Trus, semua kumpul-kumpul itu, semua upaya mendekatkan bonding kami sebagai sahabat itu,, Sungguh teman-teman inilah yang membuat setahun di tanah rantau ini menjadi tidak begitu berat, dan sekarang dalam satu bulan ke depan mereka akan satu per satu pulang.. aaakkkk, ini sedih bangeeet.

Aku beneran nangis loh selama beberapa saat. Lalu, WA dari teman seperjuangan yang lain pun muncul. Dari Ashraf. WA nya sekaligus menjadi teguran dan pengingat untuk tidak berlama-lama baper. I'll never walk alone. Masih ada Ashraf juga untuk 3 tahun ke depan. Insyaallah ada teman-teman baru juga. Semoga bisa sama baiknya seperti teman-teman yang akan pulang, aamiin.



So, usap air matamu, Ririn. Allah sudah berjanji akan menggantikan teman dan keluarga bagi mereka yang merantau demi menuntut ilmu. Janjinya benar tak sekalipun ingkar. Sekarang tersenyumlah...



PS: Sorry for Jeung Sist Irna, isi postinganku masih soal menye2 aja,, sesak kalo gak dikelaurin soale. Next post insyaallah su lebih baik, yess... hehehe..

Friday, July 28, 2017

Dinner with Ashraf

Dari sekian banyak pesan yang disampaikan pada saat pre-departure briefing setahun yang lalu oleh pembicara yang diundang oleh British Council, dan pada ceramah-ceramah acara pembekalan serupa yang lain, satu hal yang paling kuingat adalah, imbangilah belajar dan bersenang-senang. Memang, kewajiban mahasiswa adalah belajar untuk nutrisi otak (yang kelak dimintai pertanggungjawabannya oleh bangsa ini), namun jangan sampai itu menghalangi kita dari memberikan hak yang seimbang bagi bathin. Jadi intinya, keep both up: studying and having fun. "Apalagi", kata si Bapak Pembicara waktu itu, "Anda akan berkuliah di luar negeri, Anda akan menemui hal yang serba baru dan jatah waktu untuk Anda tinggal di situ sangat terbatas. So, go exploring the city, go having fun, take a lot of pictures, grab life lesson in the streets there, and so on and so on."

Tentu saja si Bapak, yang S2 dan S3 nya di Machester, paham tekanan yang kami hadapi berbeda dengan teman-teman yang berkuliah di dalam negeri. Ini sedikitpunbukan bermaksud mengecilkan nilai dan kualitas pendidikan di dalam negeri loh ya. Hanya saja, jauh dari keluarga, homesick, pengalaman menjadi minoritas, perbedaan musim yang lumayan ekstrim, dan perbedaan budaya tidak bisa dipungkiri menghadirkan tantangan tersendiri yang hanya akan bisa dipahami jika kita menjalaninya sendiri. Beliau sudah tak heran lagi dan tak nyinyir lagi ketika para mahasiswa di tanah rantau mengaplod foto jalan-jalan dsb karena beliau begitu faham, bahwa itu adalah serangkaian "kamuflase" dari tekanan kuliah yang tidak ringan. Di balik wajah-wajah cerah ceria yang kami upload di sosmed itu, sesungguhnya ada kecemasan akan tugas yang bertumpuk-tumpuk atau merupakan pelarian setelah mendapat feedback yang lumayan pedes dari dosen. Bapak I Made Arsana, yang blognya saya surcribed karena kontennya sangat bermanfaat, pun mengamini hal ini. Beliau malah dengan sengaja mengirim semangat kepada seluruh mahasiswa rantau di luar negeri melalui tulisannya yang bisa dibaca di sini. Duh, serius, demi membaca tulisan beliau, rasanya adeeem banget. Ada yang mengerti juga, akhirnyaaaa 😌

Oleh karena itu, kemaren setelah seharian frustrasi menatap laptop dan tidak mendapatkan apa-apa (sungguh, tikaman batin paling ngilu adalah menatap kursor yang berkedap-kedip di halaman Word Processor yang putih bersih), aku akhirnya memutuskan untuk menerima ajakan Ashraf untuk break sejenak for dinner (yang seperti bukan dinner karena langit masih terang padahal waktu menunjukkan sudah pukul 8 malam).


Dari yang dijanjikan jam 7, ternyata kami jadinya keluar jam 8 (kemoloran ini murni salahku, heheh). Sewaktu janjian, langit Bristol masih biru cerah manjah,, tapiii eeh pas udah di gerbang Deans, awan gelap yang datangnya super cepat itu seketika mencurahkan bebannya. Hujan yang lumayan deras seketika mengecup bumi. Typical UK's weather. Untungnya Ashraf bawa payung, jadi bisa terhindar dari kebasahan. Seperti yang disepakati, kami menuju resto yang menyajikan mie sebagai menu utamanya. Diantara 3 pilihan, aku memilih di restoran Vietnam, karena pertimbangan lokasinya di dekat St. Nicholas Market, yang tidak terlalu jauh namun juga tidak terlalu dekat seperti Yakinori di Park Street. Maka, dibawah daun pisang payung besar Ashraf, kami menerobos hujan menuju tempat itu.

Rupanya, sore kemaren, resto ini sedang menjadi primadona orang-orang. Kursi hampir terisi penuh semua. Kesan pertamaku adalah aku suka arsitektur tempat ini. Langit-langitnya tinggi dan lampion-lampion bambu mempercantik dekorasinya. Lengkungan khas Eropa sangat terasa. Sayangnya, aku tidak mengambil foto yang proper kemaren, karena mmm.. lagi gak pengen aja. Yang ada hanya satu foto selfie sambil menunggu pesanan kami datang dan satu lagi foto makanan kami, selebihnya, hape diungsikan ke tas masing-masing, hehehe. Atas rekomendasi Ashraf aku memesan Mie (apa yaa aku lupa namanya yang pasti ada king-prawn nya dan kami minta yang halal). Ashraf sendiri memesan apaaa begitu namanya (aku lupa, hahah) dan starter untuk dimakan berdua. Setelah makanan datang, aku pun mengamini istilah "rumput tetangga lebih hijau" atau dalam kasus kami kemaren sepertinya ungkapanya akan aku modifikasi jadi "kuah mi tetangga lebih eunyak" hahaha. Hal pertama yang aku lakukan ketika pesanan kami datang adalah foto (tetep) trus membandingkan pesananku dan pesanannya. Aku menyicip punyaku dulu, diapun begitu, dan saling menwarkan untuk menyicip punya kami masing-masing. Setelah sesendok dua sendok icip, aku otomatis bilang "waaah.. Ashraf, yours is nicer" dia juga bilang yang hal yang serupa. Lucunya, tak ada satupun kami yang rela untuk tukaran pesanan, wkwkwk.






Kami menghabiskan makanan kami sambil ngobrol santai dengan topik super random. Dari urusan kuliah, rencana jalan-jalan, urusan kerjaan dia, urusan pindah akom aku, sampai dengan isengnya memikirkan kenapa ya kami tak pernah bertemu dosen di jalan? trus sampai sempat membayangkan bagaimana jika Lisa, dosen kami, tiba-tiba muncul di sini denagn kostum Cosplay, hahaha. Mungkin 2 jam lamanya kami nongkrong di situ sampai akhirnya kami memutuskan pulang. Sebenarnya masih pengen main sambil makan es krim, tapi aku ingat Sukma minta dibantuin olah data pake NVivo, jadi kami memutuskan makan es krimnya minggu depan aja setelah menjajal resto steak baru yang halal dan konon lebih enak dari Lona.

Well, begitulah cerita escape kami kemaren... Overall, soal rasa resto ini lumayan bersahabat di lidahku. Tidak seperti Chilly Daddy yang waktu itu kudatangi bareng teh Diah. Soal selera saja sih menurutku. Oh ya, soal harga, resto ini harganya sebelas dua belas lah sama Wagamama dan Yakinori, agak lumayan mahal kata beberapa teman. Tapi menurutku worth it lah sekali-kali, heheh.. Udah dulu ya, btw.. aku ada janjian untuk poto bareng sama Aldi demi urusan visa kami. Have a good day, everyone.. ^^




Wednesday, July 26, 2017

Dududu


I just want to post this, hehehe. Too much pressure that I need to step back. Tomorrow will be fighting agaaaaiiiinnnn... 

Tuesday, July 25, 2017

Ralat!

Rupanya aku tak jadi tidur begitu selesai tilawah. Aku jadinya lanjut lagi blogwalking sana sini, trus googling, dan ngeYuTube. Hasilnya... aku mendadak punya satu lagi resolusi penting nan suci yang harus aku wujudkan dalam waktu singkat. Apakah itu??

jreng jreng jreng...

Aku pengen belajar cooking dan baking. Sepertinya seru. Okeeeh.. mungkin sekali dalam dua minggu lah yaaa...

Etunggu... mulainya pas selese deadline ajah, which is nanti Oktober. Deal, Ririn? Deal!!!
Pukul 21.33. Sudah masuk magrib untuk wilayah bristol dan sekitarnya. Mungkin aku sudah harus pulang, mandi air hangat, sholat, tilawah, putus kontak sama sekali dengan radiasi laptop dan kemudian tidur. 

Monday, July 24, 2017

Dear Future Me,

Kalau umur panjang dan kebiasaan kamu 'membaca-ulang-postingan-lawas-di-blog-ini belum berubah, maka duduklah sejenak terserah mau sambil ditemani teh ato frappe dan camilan-camilan kesukaan kita.

Hari ini, aku dengan sengaja sedang menulis pesan untuk kamu, diriku di masa datang, tentang beberapa hal yang aku ingin kamu lakukan pada saat itu.

Pertama, aku ingin kamu juga membuat blog (mungkin ada bentuk dan nama lainnya di kemudian hari) kolaborasi dengan suami kamu. Iya, aku tadi sempat mampir ke blognya Mbak Wenning dan terinspirasi dari kisah-kisahnya. Oh ya, in case kamu lupa, Mbak Wenning itu Ibunya Ken dan Istrinya Mas Atha. Kalian dipertemukan takdir ketika kuliah di Bristol. Dia ikut menemani Mas Atha, yang juga kuliah di Bristol. Di blog itu, terdapat beberapa tab-tab khusus. Ada yang khusus ditulis oleh si Mbak, ada juga kolaborasi tulisan dia dan Mas Atha tentang serba-serbi petualangan mereka mengarungi bahtera rumah tangga. Seru bacanya. Nah, aku ingin kalau bisa kamu dan pasangan kamu juga bisa kolaborasi gitu yaa. Meski, kalau kamu berakhir sama si 'Orang itu' mungkin ini agak sedikit sulit, karena dia bukan orang yang suka membagi perasaannya ke khalayak ramai apalagi menuliskannya di blog. Tapiii, mungkin kau bisa membujuknya pelan-pelan, hehehe. Mmm.. tapi kalau kamu berakhir dengan si "You Know Who", mungkin masih ada peluang sih untuk melakukan kolaborasi, tapi pasti dianya lebih suka menulis tentang bidangnya dia yang sangat teknis sekali. Well, setidaknya dia punya ketertarikan menulis juga. Aku tahu dari temennya, yang juga temanku, bahwa dia pernah ngeblog. Tapi tak bisa kubaca karena disetting privat sama dia, huft. Trus dari mana kutahu kalau yang ditulisnya adalah melulu bidangnya??? Karena waktu itu dia pernah keceplosan pas kami ngobrol, wkwkwwk. Trus bagaimana kalau akhirnya Allah memilihkanmu yang lain? yang bukan salah satu dari keduanya? Well, aku yang sekarang akan mendoakan semoga kamu bisa dengan teman yang benar-benar sejiwa, setia menemani dalam susah dan senang, suami berasa sahabatlah, sama-sama suka travelling, sama-sama suka mencoba hal yang baru, sama-sama mau saling menyesuaikan visi misi bersama dan bersungguh-sungguh mewujudkannya berdua,, aamiin. Untuk itu, aku akan memantaskan diri mulai dari sekarang, berusaha membujuk Ilahi agar diberikan yang terbaik, aamiin. Itu hadiahku untukmu, janji. Kamu juga janji ya,, kalau sudah dapat pasangan jiwamu itu, segeralah bikin blog, hehehe.

Kedua, aku sungguh ingin menjadi istri dan ibu yang baik dan bisa diandalkan untuk keluargaku. Jadi, future me, cobalah berdamai mengkonsumsi sayur-mayur dan buah-buahan juga ikan. Hindari penggunaan MSG. Kamu mungkin bisa rajin-rajin minta resep makanan sehat ala-ala Ceceng. Kalau perlu, seperti yang selalu kita impikan sejak dulu, berkebunlah. Di halaman belakang, buatlah kebun sayur mayur dan rempah-rempah yang bisa kau petik ketika hendak memasak. Di jamin olahan masakanmu akan lebih sehat dan lebih nikmat. Ah, pasti menyenangkan sekali kalau bisa seperti itu. Oh ya, jangan lupa istiqomah olah raganya biar sehat dan lincah mengurus keluarga. Gabung sama club larinya Irna dan Mbak Gida ga ada salahnya dicoba. Ini, selain bisa bikin badan dan fikiran segar dan fit, bisa juga jadi contoh yang baik untuk anak-anak kamu nantinya. Fisik dan fikiran yang sehat akan sangat membantumu menjadi ibu dan istri andalan, hehehe. Di malam hari, jangan pernah lewatkan semalam pun berlalu tanpa membacakan dongeng buat anak-anakmu. Aku sudah sejak lama menyicil buku-buku ketjeh untuk itu, baik yang versi Bahasa Indo maupun Bahasa Indo. Kalaupun kamu ke luar kota dan akhirnya terpaksa tidak bisa menemani anak-anakmu tidur, maka pastikan suamimu bisa menggantikan tugas wajib kamu itu. Well well, kalau kamu berakhir dengan salah satu dari kedua yang kamu maksudkan di atas, hal ini tentu bukan masalah. Dua-duanya suka bercocok tanam dan membaca soalnya, hehehe. Kalaupun Allah menakdirkanmu dengan yang lain, doaku sama aja sih seperti yang kuucapkan tadi.

Nah, kali ini cukup ini dulu yaaa... masih banyak siih, tapi nanti-nanti saja nulisnya. Sudah jam sepuluh malam waktu Bristol sekarang ini. Sudah saatnya pulang. Harus istirahat juga kan akunya, biar bisa mewujudkan kamu di masa datang, yang sehat, yang cerdas,, aamiin.


Lima Bulan Lagi, Sabar!!!

Agustus, September, Oktober, November,,,, Desember..

Lima bulan lagiii!!!!!

if you know me sooo welll, you'll easily guess kalo sudah mulai ngitung bulan gini artinya aku sedang bergulat dengan essay lagiii, hahaha. Alhamdulillah, essay yang satu kemaren berhasil disubmit setelah drama salah deadline dan akhirnya minta extension. Trus pas dirukiyah tutorial sama dosennya (lima hari sebelum due date extension yang dikasih, hasilnya adalah essayku harus dirombak SELURUHNYA, karena kata beliau pembahasanku terlalu meluas, dan melebar kemana-kemana. Artinya lima hari nginap manis di perpus sambil ngecengin adek ondong yang bertaburan dengan mata hijaunya.  Tidur kurang, pola makan kacau balau (susah sih yee buat yang tipe "kao setress jadi malas makan" kayak aku ini), berat badan turun drastis mengakibatkan timbangan anjlok, jlok, jlok. Kalau vidcall sama mamah beraninya cuman nunjukkin muka ajah karena kalo nunjukkin badan keliatan banget cungkringnya. Beliau bisa shock dan khawatir berhari-hari dan aku tak mau itu.

Nah, setelah submit, aku mereward diriku dengan 3 hari break yang kuusahakan berkualitas. Satu essay beres, nafsu makan meningkat. Trus hengot di kampusnya orang pinter, di Oxford, sambil berharap ketularan pinter, hehehe.. Oxford hari itu rameeee bangeet. Trus habis itu,, dikarenakan selama masa-masa bertapa, perawatan wajah dan badan jadi terabaikan, boleh dunk yaa seharian perawatan sambil shopping-shopping alat tempur perawatan gitu meski akhirnya agak kecewa karena outletnya TBS yang di Cabot Circus gak ada sale padahal di websitenya ada.. hiks. Di kostan kebeneran sudah ada Sukma yang menemani, jadi adalah temen ketawa2 dan bergundjing berdiskusi masalah kuliah. Kayak semalam, sehabis dianya beres ngetranskip hasil interviewnya, kita nonton serial Friends LAGI, sangat lumayan untuk puas2in ketawa sebelum besoknya berjibaku lagi dengan nugas.

Oxford Corner

Oxford ini nuansa tua dan klasiknya terasa banget



Oxford yang lagi rame dikunjungi turis



kolaborasi cantik: Radcliff, sama gedung apalah2 namanya itu (maap lagi males googling)

Kami juga menyempatkan main ke OCIS
(Oxford center for Islamic Study)

lanjut ke Oxford Museum dooong kitee






Bidadari nampang depan Radcliff
(perpusnya Uni of Oxford, yang juga jadi salah satu lokasi syutingnya Harry Potter)


The Bridge of Sigh yang femess itu

Uhktifillah bersama dua ibu2 inspiratif
kika: Tante Netta, Mela sang Murobby, Eykeh, Budok Irna, Tante Titik, Ukhti Ery.

full squad

Cantiiiikkk semuanyaaa

Dan, datanglah hari ini, dimana aku memutuskan untuk mulai fokus lagi untuk dua essay selanjutnya. Dan mulailah lagi hadir saat-saat butuh pengalihan sejenak setelah lelah 'mengunyah-ngunyah' jurnal. So, here I am, blogging, telling you the MOST IMPORTANT LIFE STORY in the world, 😝😝😝. Oh iyaa, aku tadi memulai postingan kali ini dengan menghitung bulan kan yak? Jadi, kemaren kalo gak salah, pas main IG aku liat postingannya Kak Seto yang lagi bersama kliennya menuju spot diving di Wakatobi, dan dalam perjalanan itu, mereka ditemani LUMBA-LUMBA.. liat ini deh. Gimanaaa?? Mupeng kaaaan??? Aku pas liat juga seketika ngetag adikku, Ace dan Naim buat merencanakan trip ke Wakatobi pas Desember. Tanpa diragukan lagi, mereka sama antusiasnya denganku, dan mulailah Naim membuat itin dan rangkuman perkiraan biaya. Kebayang sudah keseruannya, insyaAllah. Naaah makanya,, teringat itu di saat-saat kepala lagi panas-panasnya ngessay, membuat keinginan pulang semakin liar di otak. Duh aduh,, wahai Desember,, tunggulah akuuu...

Wokeh, Ririn,, sudah tjukup 'escape' hari ini, saatnya back to the reality, kelarin essay agar jiwa tenang raga kembali sehat, hehehe...

*disclaimer: aku tau postingan kali ini bertaburan typo dan penulisan yang tidak sesuai kaidah menulis yang baik dan benar, tapi editnya nanti aja yaaa,,, hehehehe

Friday, July 21, 2017

Why, Chester?

Shock. Shock. Shock.

Bertambah satu lagi musisi dunia yang memilih mengakhiri hidupnya sendiri. Semalam, Chester-nya Linkin Park menambah daftar itu. Semoga ini yang terakhir. 

Untukku yang tidak (belum) bisa lepas dari musik, berita ini lumayan bikin terdiam beberapa saat. Bagiku, beberapa musik ditakdirkan menjadi tonggak-tonggak penting, menandai kilometer perjalanan hidupku. Musik-nya Linkin Park salah satunya. Di kilometer 14 atau 15, aku pertama kali mendengar suaranya Chester, dan seketika jatuh cinta. Musik mereka mewakili jiwa mudaku yang cenderung ingin memberontak. Seperti halnya ribuan remaja lainnya, aku merasa raungan Chester mewakili jeritan hati, ketakutan dan kemarahan kami. Bahkan, saat ini pun, ketika aku berhenti sejanak dan melihat kembali tonggak penanda perjalanan hidupku ini, beberapa lagu mereka masih relevan.

Mulai dari semalam, aku pun kembali memutar lagu-lagunya di YouTube. Ikut bernyanyi merayakan kesedihan, kemarahan, dan ketakutan serta depresi. Dan aku menikmati lagu-lagu itu dengan cara yang takkan pernah sama lagi. Aku sedih karena selama ini dia sedang menderita ketika kami menikmati lirik lagu-lagunya.

"I've always thought his lyrics were powerful in a way that they show anger and pain. I'm really sad that they actually the reflection of what he had been through. I wish he could be stronger, I wish someone could reach his deepest pain. I wish..." kata Mbak Ivah di status FBnya.

Oh, Chester, I don't know whether I will listen SOMEWHERE I BELONG the same way, ever again... R.I. P.