Friday, September 22, 2017



The way you treat the others defines who you are... 

Tuesday, September 19, 2017

Sebenarnya ingin kutanya: "mau kubawakan apa?" Tapi katamu dulu: "surprise me!" 

Sunday, September 17, 2017

Kota ini mulai merayap masuk ke sedalam-dalamnya hatiku. Pada piano yang berdenting di taman kota; Pada anginnya yang seringkali tidak santai; Pada pasangan yang menua bersama; dan pada waktu yang mulai terbiasa kunikmati denganmu.

Wednesday, September 13, 2017





I can’t wait for the day that life makes sense – some days I understand why certain things happened and others I’m not so sure, but all I know is that somehow we’ll connect the dots and someday we’ll complete the puzzle, until then, we have to learn how to live our lives without trying to understand it and we have to learn how to be comfortable with the irony and uncertainty of life; otherwise we’ll lose our common sense trying to make sense of the life we’re living.

~Rania Naim~

Friday, September 08, 2017



Aku tak bisa ke center hari ini. Lihat! Di luar hujan! Perkiraan cuaca bilang di luar akan lumayan dingin. Sedangkan, di kamarku lumayan hangat. Jadi aku memutuskan tinggal di dalam rumahku yang nyaman. Duduk dekat jendela, menikmati suara tetes hujan memukul-mukul kacanya. Dedaunan dan ilalang mulau mengabarkan kedatangan autumn. Langit kelabu, tirai hujan, dan warna-warni alam memanjakan mata dan imajinasiku pagi ini.

Wednesday, September 06, 2017

Aku ingin bercerita banyak, tentang hijau yang menghampar pagi ini, tentang langit yang dipresiksi menangis seharian ini, tentang tugasku yang sedikit lagi bisa disubmit.

Aku juga ingin berbagi banyak hal, ada teh hangat yang mengepul disela-sela jemariku, ada angin yang sejuk memeluk tubuhku, ada roti bakar dengan mentega dan gula pasir favorit kita dulu, dan ada rindu yang terlalu berat untuk kutanggung sendiri.

Aku ingin melalui banyak hari, ingin bertengkar lalu berdamai berulang kali, ingin melindungi dan dilindungi, menguatkan dan dikuatkan, berjalan, jatuh, dan bangkit lagi, bersamamu.

Bersamamu, penenang paling juara di dunia. Pendengar paling sabar sejagad raya. Pembujuk nomor satu. Sahabat yang paling bisa kuandalkan. Tempatku selalu kembali, lagi dan lagi, setelah lelah mengembara, setelah puas melihat dunia. Pemilik senyuman yang selalu lebih dulu muncul di matanya kemudian di bibirnya.  Pribadi dengan hati yang paling hangat yang pernah kutemui. Satu-satunya di muka bumi. Satu-satunya di muka bumi.

Selamat ulang tahun. 
Perahuku, yang terbuat dari kertas itu, yang warnanya hitam itu, yang dulu kubuat saat sedang mengingatmu, yang lalu kutempel pada cermin di kamarku di Deans, yang tempelannya pake selotip, yang pernah hampir lepas tapi kurekatkan lagi lebih kuat, kini berlayar di tempat yang baru.

Perjalanan kali ini, mungkin tidak sendiri. Mungkin. 

Tuesday, August 29, 2017

"Dalam lingkaranku, jarang aku menemukan anak science yang suka sastra. Apalagi, jika penulisnya bukan berasal dari negara yang sama dengannya." 

"Kata siapa? Buktinya kau membaca Shakespeare juga kan?"

"Iya, waktu kuliah dulu. Karena di suruh. kewajiban. Dan aku memang dulunya anak Bahasa."

"Trus?"

"Trus, aku takjub aja. Kamu anak science, bacaannya malah Sapardi Djoko Damono dan Pramoedya."

"Yee. Sastra indo itu keren."

"Hmmm..."

"Sudah baca,,, bla,, bla,, bla..."

"Belum."

"Aku punya bukunya. Besok kubawakan."

"OK."

Sunday, August 27, 2017

From where I sit this morning

Sudah. Semalam sudah kuhabiskan untuk mengisi ulang energiku. Terlelap dalam keadaan lega dan bahagia. Alhamdulillah, ketika pagi datang, nafas masih di badan. Lalu, bergegas megerjakan apa yang seharusnya dikerjakan di waktu matahari merambat naik: Sarapan, mandi, dan bersiap menjalankan hari.

Biru. Langit Bristol biru sekali pagi ini. Awan sepertinya absen, ingin menikmati liburan juga di tempat  lain. Sumringah, bibir-bibir melengkung disela-sela obrolan hangat. Dari balik jendela, gadis cilik berbalut gaun pink berhenti berlari demi dikecup hidungnya oleh ayahnya. Ibunya menyusul segera. Ada rona merah muda di pipinya.

Seperdelapan terisi. Beacon House seperdelapan terisi pagi ini. Belum riuh seperti waktu siang atau sore dan malam. Aku suka. Aroma caffein dan cokelat hangat menguar di udara. Samar-samar aroma roti bakar dan keju yang meleleh bergabung berdansa memenuhi langit-langit. Feels like home. Aku suka.

Musical. Keletak-keletok bunyi keyboard laptop yang ditekan-tekan para pejuang akademik menjelma musikal di telingaku. Yang di ujung sana, seolah terhisap oleh dunia di dalam layar laptopnya. Yang baru datang, setengah berlari mentransfer semangat lewat tepukan persahabatan kepada temannya. Tepukan itu beresonansi. Aku ikut tersapu gelombangnya.

TB! Benar! Itu TB yang barusan banget masuk. Ditangannya bergantung sebotol air mineral. Sikap tubuhnya dalam keadaan siap menuntaskan beban akademik yang dia panggul dipundaknya. Mata kami saling tersenyum dan menyemangati ketika bertemu pandang. Kulihat, ada bekal semangat dari Mbak Mae dan Vira di sana. Dia dalam posisi siap tempur dan berniat pulang dengan oleh-oleh progress yang cukup signifikan untuk dipersembahkan kepada keluarganya. Aku juga ketularan semangat itu.

Tandas. Gelas kopiku sudah tandas. Masuk sudah ke sistemku ramuan hitam yang ingredientnya berupa zat anti kantuk, larutan penambah fokus dan suntikan berbagai semangat. Artinya, aku sudah siap melanjutkan perjalanan lagi bersamamu, duhai essay. Mari saling bergandengan tangan. Hari ini cantik sekali. Sempurna untuk kita menuntaskan perjalanan.


Saturday, August 26, 2017

Janin-janin dalam fikiranku urung lahir hari ini. Aku keguguram berkali-kali. Ada yang  dengan tega sengaja kuaborsi, ada yang memang memilih untuk hanyamerasa nyaman dalam rahim kepalaku. Menari-nari dalam kegelapan. Dia harakiri ketika kuminta keluar ke dunia bernama paper.  Menyebalkan.

Bising camar dan gagak berkaok-kaok di luar sana. Kalau Sukma dengar pastilah dirinya akan menggerutu dan mengutuk. Tapi bagiku, bahkan kaok-kaok mereka terasa sangat merdu. Jika kau bisa mendengar suara-suara hantu yang bergema di sudut-sudut kepalaku, kau akan setuju denganku. Lengkingan mengerikan unggas-unggas itu tak ada apa-apanya. Tidak ada apa-apanya.

Aku lumpuh total, ku rasa. Aku butuh bicara denganmu, ku rasa. Aku butuh mendengar kau yang berkata, "InsyaAllah, ko bisa ji, Rin. Sabar, nah.. terlewati ji itu" Suaramu menajdi candu, ku rasa. Pembujuk paling sakti mandraguna.

Fikranku adalah kobra dan kau adalah pawangnya. Satu-satunya di muka bumi. Satu-satunya di muka bumi.





Monday, August 21, 2017

On the Night Like This-Mocca



On the night like this
There's so many things I want to tell you
On the night like this
There's so many things I want to show you

Cause when you're around
I feel safe and warm
When you're around

I can fall in love every day

In the case like this
There are a thousand good reasons
I want you to stay...



..............................................................


If you  know what I mean.
Call me, OK.

Yang memilih tidak pergi

Ini kutulis sebagai ucapan terimakasih.
Untukmu, yang memilih untuk tak pernah pergi.
Walau aku telah bermilyar kali mengira begitu.

Di tepiku yang sekarang, terseok-seok menajdi dewasa,
Ada engkau yang berani dan selalu sabar mengikis jarak.
Pada setiap kali kau balas WAku yang sepele, dan selalu berakhir dengan Video call.

Yang kutahu, ada satu yang tak mudah berubah diantara kita.
Di luar semua kesalahfahaman dan keegoisanku dan tuntutanku.
Aku menyayangimu. Kau menyangiku.
Dengan cara yang tak sama, kukira. Itu adalah fakta.

Tapi, apapun itu, terimakasih untuk selalu di situ.
Melayani semua keabsurdanku. Menerima telepon tak pentingku,
yang seringkali abai pada 8 jam perbedaan waktu di tepiku dan di tepimu.
Kau punya seluruh alasan untuk beranjak, tapi nyatanya tidak.

Mau kukatakan sekarang, sebelum aku gengsi lagi.
sesungguhnya suaramu menenangkanku.
Senyummu menguatkanku.
Itu membuatku ketergantungan. Kecanduan.
Teruslah begitu. Jangan tinggalkan.

Kumohon.
Jangan tinggalkan.




Saturday, August 19, 2017

From Bristol to Indonesia 🇮🇩




Hari ini, Sabtu 19 Agustus 2017, kami, Perhimpunan Pelajar Indonesia dan segenap warga negara Indonesia yang menetap di Bristol, United Kingdom, merayakan upacara peringatan kemerdekan Republik Indonesia yang ke 72 tahun. Bertempat di daerah Kingswood, kami secara suka cita berkumpul di pelataran parkir Gereja (maaf lupa namanya,,,nanti aku tanya temen dulu, ya) untuk melaksanakan upacara bendera dirangkaikan dengan pengajian bulanan Al-Hijrah dan games baik bagi anak-anak dan orang dewasa.

Suasana khidmat membumbung di udara ketika upacar adilaksanakan, apalagi saat lagu Indonesia Raya dikumandangkan mengiringi penggerekan bendera menuju puncak tertinggi. Kulihat, beberapa peserta tak dapat menahan rasa harunya tatkala bersama-sama menyanyikan lagu Tanah Airku. beberapa kulihat sampai meneteskan air mata. Hari ini, alhamdulillah aku diminta menjadi dirigen. Suatu kebanggaan tersendiri bagiku. Dulu, aku selalu bertanya-tanya bagaimana rasanya menyanyikan lagu Indonesia Raya di negara orang. Kini, aku bahkan yang menjadi pemimpin untuk menyanyikan lagu itu kebangsaan itu bersama-sama. Rasanya merinding dan sarat haru.

Oh, ternyata kami sangat mencintaimu, Indonesia. Kami berutang padamu. Pada udara, tanah dan airmu. Tunggulah kami, para pelajar Indonesia di tanah rantau untuk kembali ke pangkuanmu. Pandu kami untuk terus memberikan yang terbaik yang kami bisa. Indonesia, kami pasti mengabdi! Merdeka!!!

Friday, August 18, 2017

Jreng.. jreng... jrengg...

Penyakitku kumat lagi. Yang tiba-tiba pengen banget nulis, trus moodnya hilang ditengah jalan. Sudah semingguan ini, aku beberapa kali mengalaminya lagi. Hari ini malah sudah ada tiga tulisan yang harus pasrah berakhir di draft. Kalau postingan yang ini juga tak berakhir, maka ini akan jadi yang ke empat. Huufftt...

Tulisan yang pertama, sebenarnya cerita tentang Bristol International Balloon Festival 2017. Dari beberapa hari pengen nulis, cuman kerempongan dalam mengurus akom baru memaksa semua kalimat untuk menceritakan event itu untuk diam saja di kepala. Tulisan kedua yang mengalami nasib serupa adalah tentang cerita seru bertemu Mbak Gida di London dan cerita tentang untuk kesekian kalinya explore kota cantik nan sexy itu bareng Sukma. Yang ketiga adalah, tips dan trik mengurus visa schengen dari UK bagi mahasiswa yang sedang berkuliah di Inggris, setelah mendengar curhatan Rizal kalau aplikasi visa schengennya dan Randy kemaren bermasalah.

Hari ini, keinginan menulis itu besar sekali di awalnya, tapi ya itu,, pas di tengah-tengah, kebosanan melanda, hahaha. Tapinya, aku mau balik baca jurnal dan lanjut ngessay moodnya juga ilang. Ya sudahlah, aku ke sini lagi deh, tapi bukan untuk menuntaskan draft-draft itu, tapi malah bikin postingan asal ini 😝. Sambil menulis ini, sekelebat muncul penggalan-penggalan kata yang entah sejak kapan secara tak sadar ternyata aku tunggu.

"Studying?" 
                "Hungry already?" 
     "Nah, now your turn!"
                                                        "You choose!"
                                                               "Just wanna say hi"
                                    "So bored. Wanna grab some ice cream?"
                     "Nice shot"
                                                                                "Just hit my pillow"
                                                                                                      "See you tom"

                    "Nah, you'll be fine"

            "C'mon..one last bite?"

          "Just call me anytime" 
     "Tom. Lunch time. My place." 


Tapi entahlah, mungkin ini tak berarti apa-apa. Dan aku memutuskan pulang dan baca novel dan tidur. Besoklah kita jumpa lagi, essay. EH salah ding, lusa. Besok aku mau upacara bendera dalam rangka 17an. Aku dirigennya. Sayang, dianya tidak ada.


Sunday, August 13, 2017

Live for this very moment

Well, tulisan kali ini adalah tulisan yang berakhir di draft, dua hari yang lalu.

Sesekali space botton di lappy kutekan untuk mem"pause" film yang sedang kami tonton malam ini. Karena, dalam beberapa adegan, kami merasa perlu mengambil jeda untuk sekedar berkontempelasi, mendiskusikan dan mengait-ngaitkan cerita dalam film itu dengan kehidupan kami masing-masing. Aku beberapa kali berflashback dan berupaya memetik hikmah dari sepanjang perjalanan hidup ku. Popocorn, croissant, biscuits dan teh sudah hampir setengahnya habis. Terkadang kami terpingkal-pingkal dan berkaca-kaca dalam proses refleksi bersama itu. Lalu, ketika tersadar jika kami belum menyelesaikan filmnya, kami lanjut lagi. Dan pause lagi, dan lanjut lagi.

Well, film ini film India. Film yang sama sekali bukan "aku" banget. Kalau bukan karena suntuk berurusan dengan essays dan urusan akom yang sensasinya sudah seperti naik roller-coaster dan bujukan Sukma yang "racun" itu, aku tidak akan mau menontonnya. Tapi, malam ini pengecualian. Entahlah, mungkin karena Bristol lagi murung seharian, makanya rasa magerku jadi berlipat-lipat. Ke perpus juga sedang tidak mood. So, seharian, aku belajarnya di atas kasur sambil berbungkus selimut.   Rencana ke Ashton Court buat nonton festival balon udara bareng Aldi pun batal karena balonnya gak bisa terbang dengan cuaca yang seperti ini. Jadi, aku dan Sukma memutuskan malam ini bersantai di kamar saja. Dan, entah gimana prosesnya, akhirnya kami menonton film India ini. Judulnya Baar Baar Dekho.


Pic taken from here

Film ini bercerita tentang sepasang kekasih, jai dan Diya, yang sudah bersama sejak kecil dan akhirnya memutuskan menikah. Tepatnya, si wanita yang memutuskan ingin menikah dengan si pria. Si Pria adalah seorang genius, yang memiliki mimpi besar untuk menajdi seorang akademisi di Cambridge dan peluang sangat terbuka untuknya untuk mewujudkan mimpi itu. Di lain pihak, Diya merupakan seorang putri dari pria kaya raya yang sangat menyayanginya. Ketika Jai menghadap ayah Diya setelah dirinya dilamar oleh perempuan itu beberapa hari yang lalu, dan menjelaskan bahwa dirinya akan ke Cambridge, si Bapak menolak mentah-mentah rencana itu dengan alasan karena Diya tidak cocok dengan cuaca di Inggris yang dingin dan bayangan bahwa Diya akan kesepian karena tak ada sanak keluarga. Konflik pun terjadi antara Jai dan Diya. Ancaman batalnya pernikahan dan pilihan-pilihan lainnya yang harus mereka ambil mulai bermunculan.

Ketika menonton film ini, kita akan dibawa maju mundur dengan cepat. Yap,, ceritanya salah satu tokoh utama (takkan kuberi tahu siapa, biar penasaran, hehehe) mengalami lompatan waktu ke masa depan dan belakang. Ketika terbangun, tiba-tiba dia telah berada beberapa hari, bahkan tahun ke depan tanpa sedikitpun tahu apa yang telah terjadi. Ditengah kebingungannya, dia mendapati bahwa ternyata dirinya telah banyak menyia-nyiakan waktu terbaik yang dimilikinya demi mengejar mimpinya. Apa yang dia kejar membutakan dia dari kebahagiaan sejati yang sebenarnya dia butuhkan. Dengan kesuksesan karir yang dimilikinya, ternyata hatinya hampa. Singkatnya, dia menyesali beberapa bagian dari hidupnya (meski kurasa unfair karena dia sebenarnya tidak sadar kalau dia melakukan itu) dan ingin kembali ke masa lalu untuk memperbaikinya. Daaan, namanya juga film, keajaiban itu terjadi. Selanjutnya silahkan nonton sendiri, hehehe

Di luar beberapa part yang aku rasa lebay dan tak masuk akal, film ini memberiku satu pelajaran yang kurasa sesuai dengan keadaanku saat ini, yakni sebisa mungkin hiduplah saat ini detik ini. Berbahagialah. Usah risau yang berlebihan akan masa depan yang belum tentu kita datangi atau masa lalu yang bagaimanapun sudah berlalu dan tak mungkin diulang lagi, seberapapun manisnya. Hargai setiap detik yang kau punya, setiap kebaikan yang disebar oleh teman-temanmu, berbuatlah yang terbaik saat ini; untukmu dan untuk orang-orang yang kau sayangi. Do not ever take everything for granted. Kepada mereka yang telah sangat baik padamu dan punya arti dalam hidupmu, jangan ragu dan gengsi untuk menunjukkan betapa kau mencintai dan menyayangi mereka, karena kau tak tahu kapan waktu akan memisahkan kalian. Jangan biarkan yang berharga hilang begitu saja. Itulah kira-kira pesan yang bisa kutangkap dan sangat membekas untukku ketika selesai menonton film ini.

Sebagai orang yang lumayan gampang dipengaruhi oleh kisah, baik dalam film maupun buku, menonton film ini memberiku pandangan dan energi baru. Well, mungkin tidak sepenuhnya baru sih, karena konsep tentang "live for this very moment" ini sudah lama kuketahui. Cuman, kali ini pesannya sepertinya pas saja dalam kondisiku saat ini. Saat di mana aku terlalu banyak takut akan masa depan dan jarang enggan move on dari masa-masa kemaren yang manis dan melenakan sehingga lupa bahagia untuk masa sekarang. Masa yang paling real, padahal. Maka, aku memutuskan untuk membuang keluh kesah dan kecemasanku, mencoba menghargai setiap detik yang diberikan Tuhan untukku. Berupaya berterimakasih atas semua kebaikan yang dianugerahkan kepadaku: orang tua dan keluarga yang menyayangiku, sahabat yang selalu ada di setiap up and downku, pada kesempatan yang tak semua bisa dirasakan orang lain, termasuk pada ujian dan rasa sakit yang menghampiri perasaanku. Semuanya indah dengan caranya masing-masing. Aku bersyukur diberi kesempatan merasai dan mengalami berbagai emosi itu. Itu membuatku utuh, dan somehow membentukku menjadi lebih kuat dan dewasa dalam memandang segala sesuatunya, aamiin.

Maka, tak perlu menunggu lama, beberapa detik kemudian, jemariku mengetik kalimat ini:
"Assalamualaikum,,, cuman mau bilang: I love you because of Allah"
-sent to my beloved ones-

Sunday, August 06, 2017

Today's Incantation




Hello Love,

This is Sunday and you're in the study centre. Worry not, my Dear! That's not the end of the world. You're making histories, well... it might not be for the whole universe, but at least for yourself. You're in one of the best universities in the world, make sure you make the most of it. Stay focus and keep going. Here is the secret spell:

"Y.O.U. C.A.N. D.O. I.T"



Tuesday, August 01, 2017

PhD? Sebuah perjalanan sunyi?





Ditemani Chocolate Frape favorite yang kubeli di 168 (Chinese Store di Park Street), aku kembali menceburkan diri dalam lautan eh danau eh kolam daftar bacaan yang menjadi targetku hari ini. Dalam prosesnya, kadang terasa menyenangkan (tanpa sangat) dan sering bikin setress karena walaupun sudah kubaca berulang kali tetap tidak paham juga. Sigh. Kalau sudah seperti ini, aku biasanya mengambil jeda sejenak (meski sering bablas, hehehe) dengan bersosmed ria. Kalau sekarang ini, lebih ke ngecek IG sama ngeblog. Yang aku pastikan adalah jangan berhenti dari proses ini. Haram hukumnya. Karena, sekali berhenti, mau mulai lagi bisa susah.

Banyak orang bilang, lanjut PhD itu serupa dengan mengambil jalan panjang nan sunyi. Mungkin sekilas sih terlihat ringan aja ya. Masuk kelas jarang, tidak seperti teman-teman yang kuliah Master. Tapi, sebenarnya di sinilah tantangannya. Setapak yang kami lalui memang sepi. Untuk tahun pertama, yang notabene masih ada kelas saja, tak jarang kami menghilang dan bersemedi di gua pertapaan kami masing-masing. Boro-boro party-party, bersosialisasi saja sepertinya sudah malas kalau lagi masa-masa deadline. Bagiku sendiri, yang lebih terbiasa kuliah pake metode ceramah dan semuanya serba disuap, tipe independent learning ini terasa mengerikan. Bukan apa, semuanya harus diurus dan ditentukan sendiri. Dari topik apa yang akan kita bahas, pisau apa yang akan kita pakai dalam menganalisis, yang tidak pernah dibahas di dalam kelas karena kita diharapkan sudah tahu; kalaupun belum, ya cari tahu sendiri. Dosen membebaskan kita untuk mengupas topik yang kita pilih itu dengan menggunakan pisau teori apapun. No right and wrong answer. Yang dinilai adalah justifiaksi mengapa menggunakan approach tersebut dan critical thinking kita dalam menyusun argumen. Untuk sampai ke sini, banyak baca adalah suatu keharusan. Selama hampir setahun ini, sulit bagiku untuk bertanya ke orang lain jika stuck dan bingung luar biasa dikarenakan teman-teman sekelas rerata sudah bekerja dan hanya datang ke kampus jika ada kuliah. Mereka juga jarang menggunakan WA dan membuka email pada saat-saat tertentu juga. bertanya pada dosen juga rasanya tak pantas mengingat seorang kandidat PhD sudah seharusnya bisa belajar secara mandiri. Huft,,, benar-benar perjalanan sunyi.

Tantangannya adalah, dari sekian banyak bacaan itu, menentukan yang mana yang cocok dan benar-benar related itu butuh waktu dan critical thingking yang mumpuni. Soalnya, ketika membaca jurnal yang kita rasa berhubungan, semuanya kayaknya pengen dimasukkan padahal kita punya keterbatasan word count. Nah, butuh kesabaran dan skill tertentu untuk bisa memilih-milih ini. Kalau sudah begini, suka pengen nangis dan merasa bodoh. Yang memperburuk adalah ingatan tentang orang-orang yang berharap banyak pada kita, mereka yang katanya merasa terinspirasi dan kagum pada kita. Padahal, andai mereka tahu, bahwa aku sebenarnya jaaauhh dari yang mereka sangkakan itu. Aku seringkali sangat malu. Sebenarnya, disaat-saat tertentu aku menggunakannya sebagai motivasi dan penyemangat, tetapi tak jarang malah berakhir menjadi beban karena merasa telah 'menipu' mereka. Untuk menebus rasa bersalah dan berusaha mewujudkan harapan mereka, aku menghabiskan lebih banyak waktu menginap di perpus dari pada di kamar sendiri (apalagi pada saat ngejar deadline). Dampaknya jelas, kantung mata dan anjloknya timbangan, hehehe...

Dampak lain dari akumulasi setress ini adalah seringnya ada tingkah aneh-aneh dari aku dan beberapa teman kandidat PhD yang lain. Diantaranya, suka dengan isengnya godain dan ngerjain temen-temen master. kadang kami juga dinilai bertingkah absurd, hehehe. "Waduh, ini ya efek samping dari kuliah PhD? jadi mikir mau lanjut lagi, liat aja kelakuan mereka" kata beberapa teman master, hehehe. Makanya istilah PhD (Permanent Head Damage) itu menajdi semakin valid, wkwkw. Menurut salah seorang senior yang sudah hampir menuntaskan kuliah doktoralnya, jadi mahasiswa PhD memang gak boleh terlalu serius, bisa gila. Belum lagi kalau sudah masuk tahapan disertasian. Bagus kalau pembimbingnya oke, kalau dapat yang agak demanding, waduh bisa tambah pusing. Beliau menyarankan agar ritme sebaiknya dijaga. Perjalanan meraih gelar ini itu serupa marathon, bukan sprint. Tidak boleh terlalu cepat tapi juga tidak boleh terlalu santai. Kalau terlalu cepat diawal, bisa kehilangan tenaga dan mati bosan di akhir; namun kalau juga terlalu santai, bisa keteteran pada saat terakhir. Bahaya.

"Benar-benar perjuangan seorang diri ya, Mas?" tanyaku padanya. "Sebenarnya gak sendiri Mbak kalau selalu melibatkan Allah" balasnya kalem. Deg! Aku terdiam. "Bagi resep dong, Mas biar bisa istiqomah menjaga ritme dan tetap waras" tanyaku lagi. "Kalau aku, prinsipku, selalu dahulukan urusan langit. Mau itu lagi fokus banget, jika sudah tiba waktu Sholat tinggalkan kerjaan itu. Di pagi hari, tak ada barang seharipun terlewat tanpa aku mulai dengan Duha. Insyaallah hati menjadi tenang dan fikiran bisa lebih jernih" jawabnya. "Jarak dari Dhuha dan Dzuhur itu lumayan lama, Mbak. Kalau fokus, sangat cukuplah untuk bisa produktif (baik itu membaca maupun menulis), nah dan sat Dzuhur tiba, kita harus mengistirahatkan otak kita agar tidak berasap sehingga selepas solat dan makan siang dan istirahat, kita bisa melanjutkan kerja lagi. Otak sehat, jiwa tenang" Katanya sambil tersenyum. "Oh ya, satu lagi, Mbak,, waktu tidurnya di jaga, jangan begadang. Harusnya waktu kita bekerja di waktu pagi itu cukup kok, sehingga waktu malamnya bisa murni dipergunakan untuk beristirahat. Kalau diforsir, malah jadinya gak produktif, karena badan yang lelah susah untuk fokus dan membuat belajar berlipat-lipat kali lebih berat."

Duuh, bener juga siiih kata si Mas ini. Kalau aku kebalikannya, siang dipake tidur, malam dipake belajar. Padahal Allah sudah menciptakan siang untuk bekerja dan malam untuk beristirahat. Sunnatullah. Oh Ya Allah, betapa aku masih harus sangaaat berbenah. Diluar semua tuntutan akademik ini, aku merasa perjalanan sekolah dotoral ini adalah perjalanan mengenali, menaklukkan, dan memperbaiki diri sendiri di setiap menit dan detiknya. Perjalanan sunyi memang, karena yang kau hadapi adalah dirimu sendiri. Bismillah, insyaAllah aku siap memperbaiki diri. Mohon doanya juga, ya.. ^^ Semoga perjalanan kalian juga menyenangkan dan dimudahkan olehNya, aamiin.



يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، أَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ.

Ya Hayyu Ya Qayyuum, birohmatika astaghiytsu, ashliy sya’niy kullahu, wa laa takilniy ilaa nafsiy thorqota ‘aini“

Artinya: “Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri (tidak butuh segala sesuatu), dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekali pun sekejap mata (tanpa mendapat pertolongan dari-Mu).”






Sunday, July 30, 2017

Near the end



Ada pertemuan ada perpisahan. Hukum alam. tidak ada satupun yang bisa merubahnya. Aku sebenarnya sudah paham sejak lama. Tapi mau gimana ya.. rasa sedih dan haru itu tidak bisa dipungkiri dan diusir. Jadi, beberapa saat yang lalu, nge WA Ripki, salah satu saudara di Deans, untuk minta tolong bantuin pindahin barang pas tengah atau akhir agustus nanti. Ripki, yang emang baik itu langsung mengiyakan. Dan entah mengapa ide tentang packing ini sukses membuat dadaku sesak dan akhirnya malah nangis, hehehe. Kebayang deh dari awal sampai akhirnya hari ini tiba juga. Rasanya baruuuu kemaren di jemput Ripki di Coach Station dan dianterin ke kamar 46 E. Trus, semua kumpul-kumpul itu, semua upaya mendekatkan bonding kami sebagai sahabat itu,, Sungguh teman-teman inilah yang membuat setahun di tanah rantau ini menjadi tidak begitu berat, dan sekarang dalam satu bulan ke depan mereka akan satu per satu pulang.. aaakkkk, ini sedih bangeeet.

Aku beneran nangis loh selama beberapa saat. Lalu, WA dari teman seperjuangan yang lain pun muncul. Dari Ashraf. WA nya sekaligus menjadi teguran dan pengingat untuk tidak berlama-lama baper. I'll never walk alone. Masih ada Ashraf juga untuk 3 tahun ke depan. Insyaallah ada teman-teman baru juga. Semoga bisa sama baiknya seperti teman-teman yang akan pulang, aamiin.



So, usap air matamu, Ririn. Allah sudah berjanji akan menggantikan teman dan keluarga bagi mereka yang merantau demi menuntut ilmu. Janjinya benar tak sekalipun ingkar. Sekarang tersenyumlah...



PS: Sorry for Jeung Sist Irna, isi postinganku masih soal menye2 aja,, sesak kalo gak dikelaurin soale. Next post insyaallah su lebih baik, yess... hehehe..

Friday, July 28, 2017

Dinner with Ashraf

Dari sekian banyak pesan yang disampaikan pada saat pre-departure briefing setahun yang lalu oleh pembicara yang diundang oleh British Council, dan pada ceramah-ceramah acara pembekalan serupa yang lain, satu hal yang paling kuingat adalah, imbangilah belajar dan bersenang-senang. Memang, kewajiban mahasiswa adalah belajar untuk nutrisi otak (yang kelak dimintai pertanggungjawabannya oleh bangsa ini), namun jangan sampai itu menghalangi kita dari memberikan hak yang seimbang bagi bathin. Jadi intinya, keep both up: studying and having fun. "Apalagi", kata si Bapak Pembicara waktu itu, "Anda akan berkuliah di luar negeri, Anda akan menemui hal yang serba baru dan jatah waktu untuk Anda tinggal di situ sangat terbatas. So, go exploring the city, go having fun, take a lot of pictures, grab life lesson in the streets there, and so on and so on."

Tentu saja si Bapak, yang S2 dan S3 nya di Machester, paham tekanan yang kami hadapi berbeda dengan teman-teman yang berkuliah di dalam negeri. Ini sedikitpunbukan bermaksud mengecilkan nilai dan kualitas pendidikan di dalam negeri loh ya. Hanya saja, jauh dari keluarga, homesick, pengalaman menjadi minoritas, perbedaan musim yang lumayan ekstrim, dan perbedaan budaya tidak bisa dipungkiri menghadirkan tantangan tersendiri yang hanya akan bisa dipahami jika kita menjalaninya sendiri. Beliau sudah tak heran lagi dan tak nyinyir lagi ketika para mahasiswa di tanah rantau mengaplod foto jalan-jalan dsb karena beliau begitu faham, bahwa itu adalah serangkaian "kamuflase" dari tekanan kuliah yang tidak ringan. Di balik wajah-wajah cerah ceria yang kami upload di sosmed itu, sesungguhnya ada kecemasan akan tugas yang bertumpuk-tumpuk atau merupakan pelarian setelah mendapat feedback yang lumayan pedes dari dosen. Bapak I Made Arsana, yang blognya saya surcribed karena kontennya sangat bermanfaat, pun mengamini hal ini. Beliau malah dengan sengaja mengirim semangat kepada seluruh mahasiswa rantau di luar negeri melalui tulisannya yang bisa dibaca di sini. Duh, serius, demi membaca tulisan beliau, rasanya adeeem banget. Ada yang mengerti juga, akhirnyaaaa 😌

Oleh karena itu, kemaren setelah seharian frustrasi menatap laptop dan tidak mendapatkan apa-apa (sungguh, tikaman batin paling ngilu adalah menatap kursor yang berkedap-kedip di halaman Word Processor yang putih bersih), aku akhirnya memutuskan untuk menerima ajakan Ashraf untuk break sejenak for dinner (yang seperti bukan dinner karena langit masih terang padahal waktu menunjukkan sudah pukul 8 malam).


Dari yang dijanjikan jam 7, ternyata kami jadinya keluar jam 8 (kemoloran ini murni salahku, heheh). Sewaktu janjian, langit Bristol masih biru cerah manjah,, tapiii eeh pas udah di gerbang Deans, awan gelap yang datangnya super cepat itu seketika mencurahkan bebannya. Hujan yang lumayan deras seketika mengecup bumi. Typical UK's weather. Untungnya Ashraf bawa payung, jadi bisa terhindar dari kebasahan. Seperti yang disepakati, kami menuju resto yang menyajikan mie sebagai menu utamanya. Diantara 3 pilihan, aku memilih di restoran Vietnam, karena pertimbangan lokasinya di dekat St. Nicholas Market, yang tidak terlalu jauh namun juga tidak terlalu dekat seperti Yakinori di Park Street. Maka, dibawah daun pisang payung besar Ashraf, kami menerobos hujan menuju tempat itu.

Rupanya, sore kemaren, resto ini sedang menjadi primadona orang-orang. Kursi hampir terisi penuh semua. Kesan pertamaku adalah aku suka arsitektur tempat ini. Langit-langitnya tinggi dan lampion-lampion bambu mempercantik dekorasinya. Lengkungan khas Eropa sangat terasa. Sayangnya, aku tidak mengambil foto yang proper kemaren, karena mmm.. lagi gak pengen aja. Yang ada hanya satu foto selfie sambil menunggu pesanan kami datang dan satu lagi foto makanan kami, selebihnya, hape diungsikan ke tas masing-masing, hehehe. Atas rekomendasi Ashraf aku memesan Mie (apa yaa aku lupa namanya yang pasti ada king-prawn nya dan kami minta yang halal). Ashraf sendiri memesan apaaa begitu namanya (aku lupa, hahah) dan starter untuk dimakan berdua. Setelah makanan datang, aku pun mengamini istilah "rumput tetangga lebih hijau" atau dalam kasus kami kemaren sepertinya ungkapanya akan aku modifikasi jadi "kuah mi tetangga lebih eunyak" hahaha. Hal pertama yang aku lakukan ketika pesanan kami datang adalah foto (tetep) trus membandingkan pesananku dan pesanannya. Aku menyicip punyaku dulu, diapun begitu, dan saling menwarkan untuk menyicip punya kami masing-masing. Setelah sesendok dua sendok icip, aku otomatis bilang "waaah.. Ashraf, yours is nicer" dia juga bilang yang hal yang serupa. Lucunya, tak ada satupun kami yang rela untuk tukaran pesanan, wkwkwk.






Kami menghabiskan makanan kami sambil ngobrol santai dengan topik super random. Dari urusan kuliah, rencana jalan-jalan, urusan kerjaan dia, urusan pindah akom aku, sampai dengan isengnya memikirkan kenapa ya kami tak pernah bertemu dosen di jalan? trus sampai sempat membayangkan bagaimana jika Lisa, dosen kami, tiba-tiba muncul di sini denagn kostum Cosplay, hahaha. Mungkin 2 jam lamanya kami nongkrong di situ sampai akhirnya kami memutuskan pulang. Sebenarnya masih pengen main sambil makan es krim, tapi aku ingat Sukma minta dibantuin olah data pake NVivo, jadi kami memutuskan makan es krimnya minggu depan aja setelah menjajal resto steak baru yang halal dan konon lebih enak dari Lona.

Well, begitulah cerita escape kami kemaren... Overall, soal rasa resto ini lumayan bersahabat di lidahku. Tidak seperti Chilly Daddy yang waktu itu kudatangi bareng teh Diah. Soal selera saja sih menurutku. Oh ya, soal harga, resto ini harganya sebelas dua belas lah sama Wagamama dan Yakinori, agak lumayan mahal kata beberapa teman. Tapi menurutku worth it lah sekali-kali, heheh.. Udah dulu ya, btw.. aku ada janjian untuk poto bareng sama Aldi demi urusan visa kami. Have a good day, everyone.. ^^




Wednesday, July 26, 2017

Dududu


I just want to post this, hehehe. Too much pressure that I need to step back. Tomorrow will be fighting agaaaaiiiinnnn... 

Tuesday, July 25, 2017

Ralat!

Rupanya aku tak jadi tidur begitu selesai tilawah. Aku jadinya lanjut lagi blogwalking sana sini, trus googling, dan ngeYuTube. Hasilnya... aku mendadak punya satu lagi resolusi penting nan suci yang harus aku wujudkan dalam waktu singkat. Apakah itu??

jreng jreng jreng...

Aku pengen belajar cooking dan baking. Sepertinya seru. Okeeeh.. mungkin sekali dalam dua minggu lah yaaa...

Etunggu... mulainya pas selese deadline ajah, which is nanti Oktober. Deal, Ririn? Deal!!!
Pukul 21.33. Sudah masuk magrib untuk wilayah bristol dan sekitarnya. Mungkin aku sudah harus pulang, mandi air hangat, sholat, tilawah, putus kontak sama sekali dengan radiasi laptop dan kemudian tidur. 

Monday, July 24, 2017

Dear Future Me,

Kalau umur panjang dan kebiasaan kamu 'membaca-ulang-postingan-lawas-di-blog-ini belum berubah, maka duduklah sejenak terserah mau sambil ditemani teh ato frappe dan camilan-camilan kesukaan kita.

Hari ini, aku dengan sengaja sedang menulis pesan untuk kamu, diriku di masa datang, tentang beberapa hal yang aku ingin kamu lakukan pada saat itu.

Pertama, aku ingin kamu juga membuat blog (mungkin ada bentuk dan nama lainnya di kemudian hari) kolaborasi dengan suami kamu. Iya, aku tadi sempat mampir ke blognya Mbak Wenning dan terinspirasi dari kisah-kisahnya. Oh ya, in case kamu lupa, Mbak Wenning itu Ibunya Ken dan Istrinya Mas Atha. Kalian dipertemukan takdir ketika kuliah di Bristol. Dia ikut menemani Mas Atha, yang juga kuliah di Bristol. Di blog itu, terdapat beberapa tab-tab khusus. Ada yang khusus ditulis oleh si Mbak, ada juga kolaborasi tulisan dia dan Mas Atha tentang serba-serbi petualangan mereka mengarungi bahtera rumah tangga. Seru bacanya. Nah, aku ingin kalau bisa kamu dan pasangan kamu juga bisa kolaborasi gitu yaa. Meski, kalau kamu berakhir sama si 'Orang itu' mungkin ini agak sedikit sulit, karena dia bukan orang yang suka membagi perasaannya ke khalayak ramai apalagi menuliskannya di blog. Tapiii, mungkin kau bisa membujuknya pelan-pelan, hehehe. Mmm.. tapi kalau kamu berakhir dengan si "You Know Who", mungkin masih ada peluang sih untuk melakukan kolaborasi, tapi pasti dianya lebih suka menulis tentang bidangnya dia yang sangat teknis sekali. Well, setidaknya dia punya ketertarikan menulis juga. Aku tahu dari temennya, yang juga temanku, bahwa dia pernah ngeblog. Tapi tak bisa kubaca karena disetting privat sama dia, huft. Trus dari mana kutahu kalau yang ditulisnya adalah melulu bidangnya??? Karena waktu itu dia pernah keceplosan pas kami ngobrol, wkwkwwk. Trus bagaimana kalau akhirnya Allah memilihkanmu yang lain? yang bukan salah satu dari keduanya? Well, aku yang sekarang akan mendoakan semoga kamu bisa dengan teman yang benar-benar sejiwa, setia menemani dalam susah dan senang, suami berasa sahabatlah, sama-sama suka travelling, sama-sama suka mencoba hal yang baru, sama-sama mau saling menyesuaikan visi misi bersama dan bersungguh-sungguh mewujudkannya berdua,, aamiin. Untuk itu, aku akan memantaskan diri mulai dari sekarang, berusaha membujuk Ilahi agar diberikan yang terbaik, aamiin. Itu hadiahku untukmu, janji. Kamu juga janji ya,, kalau sudah dapat pasangan jiwamu itu, segeralah bikin blog, hehehe.

Kedua, aku sungguh ingin menjadi istri dan ibu yang baik dan bisa diandalkan untuk keluargaku. Jadi, future me, cobalah berdamai mengkonsumsi sayur-mayur dan buah-buahan juga ikan. Hindari penggunaan MSG. Kamu mungkin bisa rajin-rajin minta resep makanan sehat ala-ala Ceceng. Kalau perlu, seperti yang selalu kita impikan sejak dulu, berkebunlah. Di halaman belakang, buatlah kebun sayur mayur dan rempah-rempah yang bisa kau petik ketika hendak memasak. Di jamin olahan masakanmu akan lebih sehat dan lebih nikmat. Ah, pasti menyenangkan sekali kalau bisa seperti itu. Oh ya, jangan lupa istiqomah olah raganya biar sehat dan lincah mengurus keluarga. Gabung sama club larinya Irna dan Mbak Gida ga ada salahnya dicoba. Ini, selain bisa bikin badan dan fikiran segar dan fit, bisa juga jadi contoh yang baik untuk anak-anak kamu nantinya. Fisik dan fikiran yang sehat akan sangat membantumu menjadi ibu dan istri andalan, hehehe. Di malam hari, jangan pernah lewatkan semalam pun berlalu tanpa membacakan dongeng buat anak-anakmu. Aku sudah sejak lama menyicil buku-buku ketjeh untuk itu, baik yang versi Bahasa Indo maupun Bahasa Indo. Kalaupun kamu ke luar kota dan akhirnya terpaksa tidak bisa menemani anak-anakmu tidur, maka pastikan suamimu bisa menggantikan tugas wajib kamu itu. Well well, kalau kamu berakhir dengan salah satu dari kedua yang kamu maksudkan di atas, hal ini tentu bukan masalah. Dua-duanya suka bercocok tanam dan membaca soalnya, hehehe. Kalaupun Allah menakdirkanmu dengan yang lain, doaku sama aja sih seperti yang kuucapkan tadi.

Nah, kali ini cukup ini dulu yaaa... masih banyak siih, tapi nanti-nanti saja nulisnya. Sudah jam sepuluh malam waktu Bristol sekarang ini. Sudah saatnya pulang. Harus istirahat juga kan akunya, biar bisa mewujudkan kamu di masa datang, yang sehat, yang cerdas,, aamiin.


Lima Bulan Lagi, Sabar!!!

Agustus, September, Oktober, November,,,, Desember..

Lima bulan lagiii!!!!!

if you know me sooo welll, you'll easily guess kalo sudah mulai ngitung bulan gini artinya aku sedang bergulat dengan essay lagiii, hahaha. Alhamdulillah, essay yang satu kemaren berhasil disubmit setelah drama salah deadline dan akhirnya minta extension. Trus pas dirukiyah tutorial sama dosennya (lima hari sebelum due date extension yang dikasih, hasilnya adalah essayku harus dirombak SELURUHNYA, karena kata beliau pembahasanku terlalu meluas, dan melebar kemana-kemana. Artinya lima hari nginap manis di perpus sambil ngecengin adek ondong yang bertaburan dengan mata hijaunya.  Tidur kurang, pola makan kacau balau (susah sih yee buat yang tipe "kao setress jadi malas makan" kayak aku ini), berat badan turun drastis mengakibatkan timbangan anjlok, jlok, jlok. Kalau vidcall sama mamah beraninya cuman nunjukkin muka ajah karena kalo nunjukkin badan keliatan banget cungkringnya. Beliau bisa shock dan khawatir berhari-hari dan aku tak mau itu.

Nah, setelah submit, aku mereward diriku dengan 3 hari break yang kuusahakan berkualitas. Satu essay beres, nafsu makan meningkat. Trus hengot di kampusnya orang pinter, di Oxford, sambil berharap ketularan pinter, hehehe.. Oxford hari itu rameeee bangeet. Trus habis itu,, dikarenakan selama masa-masa bertapa, perawatan wajah dan badan jadi terabaikan, boleh dunk yaa seharian perawatan sambil shopping-shopping alat tempur perawatan gitu meski akhirnya agak kecewa karena outletnya TBS yang di Cabot Circus gak ada sale padahal di websitenya ada.. hiks. Di kostan kebeneran sudah ada Sukma yang menemani, jadi adalah temen ketawa2 dan bergundjing berdiskusi masalah kuliah. Kayak semalam, sehabis dianya beres ngetranskip hasil interviewnya, kita nonton serial Friends LAGI, sangat lumayan untuk puas2in ketawa sebelum besoknya berjibaku lagi dengan nugas.

Oxford Corner

Oxford ini nuansa tua dan klasiknya terasa banget



Oxford yang lagi rame dikunjungi turis



kolaborasi cantik: Radcliff, sama gedung apalah2 namanya itu (maap lagi males googling)

Kami juga menyempatkan main ke OCIS
(Oxford center for Islamic Study)

lanjut ke Oxford Museum dooong kitee






Bidadari nampang depan Radcliff
(perpusnya Uni of Oxford, yang juga jadi salah satu lokasi syutingnya Harry Potter)


The Bridge of Sigh yang femess itu

Uhktifillah bersama dua ibu2 inspiratif
kika: Tante Netta, Mela sang Murobby, Eykeh, Budok Irna, Tante Titik, Ukhti Ery.

full squad

Cantiiiikkk semuanyaaa

Dan, datanglah hari ini, dimana aku memutuskan untuk mulai fokus lagi untuk dua essay selanjutnya. Dan mulailah lagi hadir saat-saat butuh pengalihan sejenak setelah lelah 'mengunyah-ngunyah' jurnal. So, here I am, blogging, telling you the MOST IMPORTANT LIFE STORY in the world, 😝😝😝. Oh iyaa, aku tadi memulai postingan kali ini dengan menghitung bulan kan yak? Jadi, kemaren kalo gak salah, pas main IG aku liat postingannya Kak Seto yang lagi bersama kliennya menuju spot diving di Wakatobi, dan dalam perjalanan itu, mereka ditemani LUMBA-LUMBA.. liat ini deh. Gimanaaa?? Mupeng kaaaan??? Aku pas liat juga seketika ngetag adikku, Ace dan Naim buat merencanakan trip ke Wakatobi pas Desember. Tanpa diragukan lagi, mereka sama antusiasnya denganku, dan mulailah Naim membuat itin dan rangkuman perkiraan biaya. Kebayang sudah keseruannya, insyaAllah. Naaah makanya,, teringat itu di saat-saat kepala lagi panas-panasnya ngessay, membuat keinginan pulang semakin liar di otak. Duh aduh,, wahai Desember,, tunggulah akuuu...

Wokeh, Ririn,, sudah tjukup 'escape' hari ini, saatnya back to the reality, kelarin essay agar jiwa tenang raga kembali sehat, hehehe...

*disclaimer: aku tau postingan kali ini bertaburan typo dan penulisan yang tidak sesuai kaidah menulis yang baik dan benar, tapi editnya nanti aja yaaa,,, hehehehe

Friday, July 21, 2017

Why, Chester?

Shock. Shock. Shock.

Bertambah satu lagi musisi dunia yang memilih mengakhiri hidupnya sendiri. Semalam, Chester-nya Linkin Park menambah daftar itu. Semoga ini yang terakhir. 

Untukku yang tidak (belum) bisa lepas dari musik, berita ini lumayan bikin terdiam beberapa saat. Bagiku, beberapa musik ditakdirkan menjadi tonggak-tonggak penting, menandai kilometer perjalanan hidupku. Musik-nya Linkin Park salah satunya. Di kilometer 14 atau 15, aku pertama kali mendengar suaranya Chester, dan seketika jatuh cinta. Musik mereka mewakili jiwa mudaku yang cenderung ingin memberontak. Seperti halnya ribuan remaja lainnya, aku merasa raungan Chester mewakili jeritan hati, ketakutan dan kemarahan kami. Bahkan, saat ini pun, ketika aku berhenti sejanak dan melihat kembali tonggak penanda perjalanan hidupku ini, beberapa lagu mereka masih relevan.

Mulai dari semalam, aku pun kembali memutar lagu-lagunya di YouTube. Ikut bernyanyi merayakan kesedihan, kemarahan, dan ketakutan serta depresi. Dan aku menikmati lagu-lagu itu dengan cara yang takkan pernah sama lagi. Aku sedih karena selama ini dia sedang menderita ketika kami menikmati lirik lagu-lagunya.

"I've always thought his lyrics were powerful in a way that they show anger and pain. I'm really sad that they actually the reflection of what he had been through. I wish he could be stronger, I wish someone could reach his deepest pain. I wish..." kata Mbak Ivah di status FBnya.

Oh, Chester, I don't know whether I will listen SOMEWHERE I BELONG the same way, ever again... R.I. P.



Monday, July 17, 2017

Just for My Mom, Sheila on Seven





Sometimes I feel my heart so lonely but that's ok
No matter how my girl just left me I just don't care
Whenever the rain comes down and it seems there's no one to hold me
She's there for me, she's my mom

Just for my mom, I write this song (just for my mom)
Just for my mom, I sing this song
It's just my mom, can wipe my tears (it's just my mom)
Just for my mom, can only hear

Trap in a subway, can't remember the day but I feel ok
Dumped in damn situation, in every condition with no conclusion
Whenever the rain comes down and it seems there's none to hold me
She's there for me, she's my mom

You may say I have no one, to cover me under the sun
You only get it from your mom
Mom...


*Sebenar-benarnya rindu...

Sunday, July 16, 2017

Dibalik layar yang lain di ujung sana, seraut wajah mendominasi frame. Wajah Mamah. Di belakangnya, riuh suara tawa ponakanku, sedang bermain dengan adikku yang masih menikmati liburan lebarannya di Kendari. Tampak juga Bapak, yang berkali-kali lalu lalang membawa mangkok buah ditangannya sambil sesekali bergabung, berbagi frame dengan mamah untuk menyapaku dan memamerkan senyumnya. Di sudut ruangan, di atas lemari buku-bukuku, ku lihat ada satu lagi figura foto yang baru (foto keluarga yang dulu, tetapi baru dicetak sepertinya). Cat rumah masih sama. Mamah rupanya tahun ini juga tak mengganti gorden baru. Kecipak-kecipuk air di kolam ikan samar tertangkap telingaku, aku dulu kalau sedang ingin santai selalu duduk dipinggir kolam ditemani secangkir teh. Aku tahu di sana sudah hampir jam sebelas malam. Aku masih ingin bersama mereka, tetapi tak tega membiarkan Mamah tidur lebih larut lagi. Selamat istirahat, Mamah, Bapak, semuanya... Sampai ketemu di Desember.

Ah kalau saja kalian tahu, hatiku ngilu diiris rindu. 


Wednesday, July 12, 2017

That Gaze

Jadi, perempuan itu menyadari matanya terasa kian perih. Mungkin karena kering dan letih terpapar radiasi, baik dari handphone maupun laptopnya. Maka, dengan sengaja dia melepas kacamata dan memijat kelopak matanya dengan lembut. Dari yang diniatkannya cuman semenit, molor menjadi tujuh menit. Ketika membuka matanya kembali, layar lappy telah menjadi hitam dan menjelma cermin. Tidak cukup terang, tapi apa yang dia liat jelas adanya. Sepasang mata.

Dia melihat saya pada layar laptop yang telah menghitam. Dia menatap saya tajam, berusaha memasuki jiwa saya. Mencari teman. Mencari sekutu. Wajar saja, selama ini yang benar-benar mengerti dia adalah saya. Saya tentu tidak menolak. Sudah lama kami tidak saling bercengkrama dengan cara seperti ini. Melalui tatap balik yang saya tujukan padanya, saya berusaha mentransfer kekuatan dan semangat. Saya tahu dia lelah dan sempat down beberapa hari terakhir ini. Tetapi, saya bangga dia tetap memilih melangkah maju walau seluruh tubuhnya gemetar oleh badai di hadapannya, siap menelannya hidup-hidup. Dia telah memilih untuk tidak lari. Saya bangga. Saya bangga padanya.

Hai, aku senang mendapati kamu ada di situ. Aku tahu kau tak pernah benar-benar meninggalkanku sendiri, kan? Aku mengenali seberkas prihatin yang kau tak bisa kau sembunyikan dariku itu. Terima kasih. Kau begitu perhatian dan simpatik. Tapi hey, tenanglah, aku tak selemah itu. Sini, kuceritakan sesuatu padamu. Tadi aku akhirnya memutuskan untuk bangkit dan melangkah menghadapi rasa takutku, yang ternyata cuman besar dalam imajinasiku saja. Faktanya, masalahku tidaklah sebesar itu. Bahkan jika besar, aku punya Allah yang jaaaauh lebih besar, benar kan?

Usai berkata begitu, dia lalu tersenyum memberi kekuatan kepada saya, dirinya sendiri.  

Tuesday, July 11, 2017

Antinomy

Di sana, di belaham bumi bagian Australia, ada seseorang yang rela membayar $50 demi bisa ngobrol dengan manusia lain. Sudah empat hari, katanya, sejak kepindahamnya di Perth, dia benar-benar tidak bertukar kata dengan orang lain. Dia belum terbiasa dengan sosok-sosok dingin tanpa ekspresi dan emosi,  yang selama empat hari ini dia temui. Masing-masing memagari dirinya dengan tembok tingginya sendiri. Tak ada ruang baginya untuk sekedar bersinggungan dan berbincang tentang cuaca. Intinya dia sudah lama tidak berbicara dengan manusia. Ngobrol ngalor ngidul denganku tentu saja tidak dihitungnya. Begitulah dia. Seringkali menyebalkan.  Tetap kusayang, tapi.

Sementara itu, di sudut dunia yang lain, seseorang sedang gentar akan sebuah perkongsian. Kebersamaan yang dulu dia sendiri yang cetuskan tanpa diminta. Dua bulan kurang lebih lamanya rencana kebersamaan itu. Sekarang, empat hari sebelum gerbang privacynya dia buka, dan bahkan tak semalam pun dia lalui tanpa mimpi buruk. Dia jadi takut tidur. Tapi terjaga pun tidak lebih melegakan karena ia sadar waktu akan terus menggiringnya semakin dekat dengan saat yang ingin ia hindari itu. Empat hari lagi.

Begitulah, di saat satu anak manusia merasa bincang-bincang santai menjadi sesuatu yang mahal, satu manusia lain malah ingin membeli kesendirian. Yang satu dahaga akan gelak tawa, yang satunya lagi ketakutan akan peesinggungan dengan orang lain di luar dirinya. Antinomy. 

Tentang 'Lari'

Betul, keliatannya yang paling gampang itu lari. Ada hambatan sedikit, menjadi bimbang lalu lari. Diuji sedikit, menjadi takut lalu lari.

Karena, yang keliatannya pling gampang itu, ya lari. Membebaskan diri dari himpitan untuk kemudian merasa lapang dalam waktu singkat. Lupa bahwa dengan begitu, tak melangkah kemana-mana. Lupa bahwa dengan begitu, masalah tak dengan sendirinya hilang, malah sibuk beranak-pinak karena memang dia diberi ruang untuk membelah diri dengan cepat.

Sungguh, yang keliatannya paling gampang itu lari. Sampai akhirnya, masalah yang telah beranak pinak itu bersekongkol menyerbu pada saat yang bersamaan. Berbaris rapat,  tak memberi celah untuk keluar. Riuh mereka mencemooh sambil dengan bengi memberi label 'pengecut yang paling hina." Lalu datanglah sesal, datanglah marah, berhianat dan balik meryerang diri dengan pertanyaan kenapa tak tak kau memutuskan menjadi kesatria sedari awal? Mengapa tak kau hunus pedangmu dulu itu dan menumpas biang masalah itu sejak belum mengakar dan meraksasa?

Sunday, July 09, 2017

Certified Procrastinator

Jadi, ternyata ada salah satu teman blogger yang cukup jeli melihat meningkatnya jumlah postinganku beberapa waktu terakhir ini dan bertanya kurang lebih seperti ini: "Wuihh rajin posting sekarang ya, Rin... Kemasukan jin apa?" Wkwkwk, ini pertanyaan tidak sopan banget sih tapi kalau diliat dari perbedaan jumlah posting dulu dan sekarang, sebenarnya Si Bawel ini wajar kalau jadi heran. Hmm... kemasukin Jin? Mungkin kalau benar, aku sat ini kemasukan Jin Essay!!! Aku punya deadline essay (seperti semua mahasiswa di dunia ini, dan mereka tidak lebay), tapi dilanda kemalasan akut untuk segera menyelesaikannya. Padahal waktunya lumayan panjang lho. Satu essay, yang terdiri dari empat ribu kata dijatah waktu tiga bulan. Apalagi, untuk unit yang ini, yang pengerjaannya benar-benar tidak overlapping dengan unit yang lain. Tapiiii,,, seperti yang kubilang tadi, pemirsah aku ini sedang dilanda kemalasan akut dan emang pada dasarnya adalah manusia penunda-nunda.

Bisa dibayangkan di dua bulan pertama aku masih santai kayak di pantai. Etapi gak ding, aku udah mulai baca kok sama bikin outlinenya. Tapiii,,, rasanya tiap kali baca kok ya tambah bingung.. Nah ketika bingung ini lah aku kerap mencari pelarian. Bentuknya pelariannya sangat beragaaam dari jalan-jalan, nonton, ngegame, tidur dan ngeblog, hehehe. Untuk saat ini, aku takut untuk mulai nonton lagi, takut ga bisa berhenti. Yang asik sih sebenarnya jalan-jalan (teteuupp) tapi yang ini harus didukung sama kekuatan ATM juga. Daaan karena sekarang gak bisa beboros-boros ria (teringat harus saving untuk bayar deposit akom di term yang selanjutnya dan juga installmentnyahh 😭😭😭), makanya hobi ini terpaksa aku kurangi. Nah, karena game juga udah kuuninstall maka, satu-satunya pelarian adalah blog.

Setiap kali udah mulai menulis essayku separagraf dan aku stuck, maka aku akan ke sini dan mulai menulis. Topiknya bisa apa saja tergantung suasana hati dan apa yang sedang kufikirkan saat itu. Kebanyakan sih sebenarnya masalah remeh-temeh yang dibuat hiperbola, hehehe. So, Jeung, inilah jawaban dari pertanyaanmu itu, yaaa. Kenapa aku jadi tambah rajin ngeblog (padahal isinya gak banget jugak)? karena aku butuh pengalihan dari essay. Essay yang sebenarnya bisa saja dikerjakan tanpa drama. Tanpa perlu bilang kalo ini "So hard, so constantly!!! How can,, how can.. my professors do that to me???" 😆 dan tanpa perlu dilakukan sambil mengingat kenangan lama (mulaiii). Inilah jawaban super penting itu, Sist. Semoga engkau puas, wuahahaha.

Ps: Ini juga ngejawab pertanyaan temen bagian dari pelarian loh,, hiks. Distraksi susulan setelah ada sesosok yang indah dipandang memilih duduk di meja di depanku. Hadehhhh,,, hahahha

Dek, itu lappynya ojo ditatap sebegitunya loo, Dek...
Ntar tersipu2 loh dia,,Jangan mainin perasaan si Lappy lah, Dek..
*sarap
Ps lagi: Salah satu godaan lainnya adalah video curhatnya AFI. Oh, How can you do that???

Friday, July 07, 2017

Kehidupan akademik di Bristol memasuki saat-saat bikin panik dan homesick 😟. Deadline, hunting akom untuk next term, trus bayangan ditingal teman dan sahabat yang bakal selesei September ini, belum kabar-kabar kurang menyenangkan dari Indo, bener-bener bikin mood naik turun dengan sangat cepat. Bohong jika aku bilang aku tidak down. Hanya saja, alhamdulillah Allah masih sayang kepadaku dan dengan lembut menarikku kembali agar tak larut dalam gundah gulana. Diberinya aku teman dan sahabat yang selalu memberi dukungan moril tak peduli ribuan mill jarak yang terbentang diantara kami. Perlahan-lahan, aku serasa menemukan diriku lagi. Dan akhirnya, aku berusaha memupuk perasaan positif ajah.

Untuk masalah deadline ini, aku kembali mencoba menata ulang niat, menelusuri kembali tujuan utama mengapa memutuskan ke sini dan mulai mengerjakan segalanya satu-satu sesuai dengan slot waktu yang udah aku atur (kapan harus belajar dan kapan harus hunting akom, dan tentu saja disela-selanya harus ada me time dan hang out bareng teman. Hidup harus tetap seimbang, bukan?). Tentang teman yang akan balik Indo, aku ingat Om Coelho pernah menulis seperti ini di bukunya_tapi aku lupa judulnya, "If you are brave enough to say goodbye, life will reward you with a new hello." So, dont worry be happy lah ya,, namanya juga hidup. Ada pertemuan pasti ada perpisahan. Yang penting adalah seberapa istiqomah kita tetap menjaga silaturahim setelah kembali ke kampung halaman masing-masing. Di sini juga insyaAllah akan ada teman (dan semoga bisa menjadi saudara baru), yang akan datang. Mela, yang baik hati bahkan pernah dengan tulus mendoakan "semoga anak-anak baru nanti jauuuh lebih baik dari kami ya, Teh.. biar teteh gak sedih ditinggal kami." Duh sumpah ngetik ini bikin nangis, maacih Melaaa, semoga kehidupan mu juga selalu dilimpahi kebahagiaan, yaa dan semoga persaudaraan tidak terputus,, aamiin.

Lalu tentang kabar-kabar yang bikin hati sesak, salah seorang sahabat baik pun pernah berkata bahwa kita tidak akan pernah bisa mengontrol apa yang terjadi. Banyak hal yang di luar kuasa kita, yang walaupun dengan keberadaan kita di sana, tidak akan mampu menghalau kejadian yang tidak diinginkan. jadi, tidak usahlah terlalu over-thinking. Urusan dunia ini sudah ada yang mengatur. Supaya bisa bahagia, lepaskan yang tidak bisa kau kontrol dan fokuslah pada hal-hal yang bisa kau atur. Misalnya bagaimana mengelola reaskimu terhadap apa yang terjadi itu. Sungguh, dukungan-dukungan seperti ini sangat membebaskan. Masalah memang tidak dengan sendirinya akan selesai, namun setidaknya, fikiran bisa lebih jernih dan lapang.

Di atas semua itu, aku menyadari bahwa kehidupan yang kujalani sekarang tak semenakutkan itu, kok. Kalau mau jujur ada banyaak sekali hal yang patut disyukuri. Hal-hal sederhana seperti bisa berkumpul bersama merayakan kelulusan salah seorang teman yang sudah kuanggap seperti saudara, (Omi) sekaligus merayakan ulang tahun Ibunda kami selama di Bristol (tante Bibah) adalah obat yang sangat mujarab mengusir awan kelabu yang menggelayut di kepalaku. Video call yang tak pernah putus dari adikku di belahan dunia yang lain, masih bisa mendengar suara mama, dan dosen-dosen yang sangat perhatian adalah anugerah kenikmatan yang wajib disyukuri. Intinya, bersyukur, bersyukur dan bersyukur. Jika ada masalah datang menghampiri, maka kembalilah selalu padaNya. Satu-satunya tempat meminta yang paling sempurna dan tak akan pernah membuat kecewa. Bukankah Dia maha menenangkan jiwa yang gelisah dan Dia selalu menjawab doa dalam tiga bentuk? Langsung dikabulkan, dikabulkan pada saat yang tepat, dan diganti dengan yang jauuuuh lebih baik. Kurang baik apa lagi coba? Hanya butuh iman saja, kan...

Ps: ada tambahan poto from yesterday's moment nih, heheh...

With our birthday Mamah
(Salim juga gak mau ketinggalan, heheh)

the geng lagi nusuk sateeee...

Bakar-bakar sate di back-yardnya tante Bibah




Tuesday, July 04, 2017

Cornwall Trip (part 1)


Well, sebenarnya saat ini, aku sedang berjibaku dengan tugas. Tapi, yaaa,, seperti biasa lah ya, kalau nugas ituu bhuaanyaaaakkk banget distraksinya. Seperti sekarang ini nih, ditengah-tengah nugas malah kebelet pengen ngeblog ajah. Nah, dari pada nugas malah ingat ngeblog mending kan ngeblog sambil ingat tugas (hahahah,, ngawurrr). Kali ini aku ingin menulis tentang kisah perjalanan. Dan diantara semua cerita jalan-jalan yang berakhir di draft itu, aku memilih bercerita tentang trip ke Cornwall. Sebenarnya udah dari kemaren-kemaren gatel banget pengen posting tentang petualangan selama mendarat di Eropa sini (Euro trip dan UK trip juga), tapii... berhubung Your Majesty,  Ririn Syahriani, ini sangaaat moody, maka kebanyakan kisah itu mentok di draft, pas balik lagi pengen ngelajutin rasanya udah gak pas, hehehhe. Makanya, mumpung cerita Cornwall ini masih lumayan hangat dan ditambah masih ada videonya juga di HP, maka langsung cuzzz ajah dipost (sebelum keburu hambar lagi). So, this is it, sodara-sodara!!





"A journey is a person in itself; no two are alike. And all plans, safeguards, policing, and coercion are fruitless. We find that after years of struggle that we do not take a trip; a trip takes us."~John Steinbeck~

Travelling itu, bagiku, merupakan suatu kebutuhan. Ia sudah hampir seperti olahraga dan mandi dan gosok gigi. Bisa saja tidak dilakukan, tapi yah kau tau lah gimana rasanya jika lama tidak dijabanin. Dijamin keehatanmu akan terganggu, hehehhe.. (ini analoginya asli asal banget, :P). Dalam hal ini, aku akan sering uring-uringan, setress tidak jelas dan dilanda kebosanan akut.

Perjalanan, baik yang solo maupun bersama teman-teman, selalu mengajariku banyak hal (bukan hal hal-hal-hal, loh yaa) dan memberi kesempatan bagi diriku untuk lebih mengenal diriku sendiri. Solo travelling kadang jauh lebih menggoda karena kau bisa bebas memutuskan hendak kemana dan berapa lama, semau-mau hati. Tak perlu mengalah dengan kehendak orang lain, dan pastinya lebih punya banyak waktu untuk berfikir dan berkontemplasi. Seperti yang kubilang tadi, perjalanan itu adalah sarana mengakrabi diri sendiri, suatu hal yang mungkin akan kurang maksimal dilakukan jikau bersama orang lain.

Tapi jangan salah, group-travelling juga menawarkan banyak sekali suka-cita. Berbagi tawa, berbagi makanan dan berbagi biaya akom dan tentu saja ganti2an saling memotret (yang jika hasilnya kurang bagus kau akan tega meminta temanmu mengulangnya sampai ribuan kali demi mendapatkan hasil yang paripurna) adalah kenikmatan yang hanya kau dapatkan ketika bareng teman atau sahabat. Dalam prosesnya mungkin akan ada sedikit clash atau bete-betean dengan teman, tapi bukankah itu juga sebuah pelajaran yang bisa dipetik? Bagaimana bertoleransi, bagaimana mengesampingkan ego demi terwujudnya pengalaman nge-trip yang damai dan tentram. Biasanya, diakhir jalan-jalan bareng ini, kalau beruntung, bonding antar teman bisa menjadi leih kuat. Kau mungkin akan menemukan saudara baru, ataaaaauuu -ehm, seperti yang telah banyak terjadi- kau bakal menemukan pasangan sejiwa untuk menghabiskan masa tua bersama, hehehe.. Menurutku, dua tipe travelling ini sama asyiknya dan sama-sama menawarkan buah-buah kearifan untuk dituai dan dinikmati serta tentu saja untuk dikenang dan dibanggakan ketika tua nanti.

Bristol, Beberapa minggu sebelum Ramadhan...

Tersebutlah tiga orang pemuda(i) atas nama Ririn, Rizal dan Oji yang berkeinginan untuk menikmati summer holiday di pantainya Cornwall. Sebenarnya, cuman pengen ke Minack Theater kalau aku mah. Tetapi Oji bilang kenapa gak sekalian eksplor aja se Cornwal-nya. Aak, dipancing gini sih pasti gak nahan dong eykeh, makanya dengan semangat 45 aku dan Rizal bersorak gembira. Tadinya ini sempat cuman jadi topik basa-basi saja, tapi lalu diseriusi oleh Rizal dan Oji, jadilah kami mengatur perjalanan kami. Rencananya kan pake mobil Oji, yang notabene bisa memanpung 5 orang. kami udah bertiga, artinya masih ada dua lagi yang bisa ikut. Daaan yang bikin bahagia adalah dua pria ini menyerahkan urusan "memilih" siapa yang mau diajak ikut kepadaku. Ahahaha,, nikmatnya berkuasa (evil laugh). Orang pertama yang diajak tentu saja si Salim, secara dia udah beberapa kali nanya "kapan dong kita ke pantai?" beberapa nama sempat dicetuskan, malah Rizal sempat bilang bolehlah kita ngundang di grup. Tapiii, aku kok maunya pengen grup kecil aja ya? Maksudku tuh kalo grup kecil, bonding kita bisa lebih deket satu sama lain. The boys manut pada tuan putri dan akhirnya kita kembali ke rencana semula, small-group travelling. Trus terakhir, ternyata si Rifki juga bilang kalo pengen ikut, jadilah fix kita siap berpetualang berlima.

Itu rencananya! Tapiii grup kita bertambah besar ketika Mbak Shally, yang mendengar diskusi kami, juga pengen ikut. Mbak Shally ini sepaket sama duo krucils yang sangat adorable, Marvin and Liam. Karena tak mungkin (dan juga tak mau) menolak, maka rencana kita pulang di rombak ulang. Di UK ini, aturan berkendara sangat ketat. Anak-anak, kalau mau ikutan, harus pake seat car standar, yang artinya, mereka akan menenmpati space layaknya adults. Tak ada cerita anak kecil duduk manis dipanguan orang dewasa seperti halnya di Indo. Artinya lagi, kita butuh mobil satu lagi. Si Oji akhirnya mengajak Faiz, yang pastinya selalu sepaket sama adiknya, Rahma. Faiz membawa mobil yang isinya juga cuman bisa berlima, jadi cukuplah buat mbak Shally dan para krucils. Setelah itung-itungan perkiraan biaya, hunting akom, waktu free masing-masing personil, dll.. kami memutuskan untuk berangkat pas Ramadhan hari pertama. Kami berencana akan menghabiskan 3 hari dan dua malam di Cornwall. kenapa pas Ramadhan? Karena kami pikir kami bisa sekaligus berhemat juga karena tak perlu jajan sepanjang perjalanan... Maklumlah ya mahasiswa yang LAnya belum cair, xixixixi. Aku malah hampir tak berangkat karena masalah financial, tapi Salim bersedia nalangin dulu, hehehe. Maacih Cayiiim..Sebenarnya sempat gentar juga ketika membayangkan akan main sambil menahan lapar dan dahaga selama kurang lebih 18 jam setengah. Ini pengalaman pertama bagi beberapa diantara kami. Beruntung Oji, yang sudah berpuluh tahun menjalani puasa di sini, berhasil meyakinkan kami kalau tidak akan sengeri itu, hehehe.

Hari pertama, 27 Mei 2017.

Jam 6 teng di pagi hari, aku sama Rifki berangkat dari Deans (nama akom kami) menuju tempat Salim, lalu kemudian sama-sama ke tempat Mbak Shally, karena mau berangkat dari sana. Tapiii dasar Salim, yang susaaaah banget bangun kalo udah terlanjur tidur, kami pun dianggurin kehujanan di depan akom dia. Telepon dari aku sama Rifki tak ada yang dijawab sama sekali. Kami pun akhirnya memutuskan berangkat ke Mbak Shally lebih dulu. Oji dan Rizal sudah lebih dulu tiba di sana. Setelah  semua bekal dan barang dimasukkan, tak lama kemudian Faiz dan rahma datang (beserta segala perbekalan masakan nan lezat dari Tante yayuk, mama mereka). Salim muncul di detik-detik terakhir. Alhamdulillah kami berangkat tepat waktu, setelah sebelumnya berdoa bersama dipimpin sama om Moemoeh (Papanya Faiz). Adegan doa bersama ini, entah mengapa membuatku terharu, sakral sekali.

Perjalanan dari Bristol ke Cornwall normalnya bisa ditempuh kurang lebih tiga jam. Namun hari itu kami dihadapkan dengan macet (walau tak separah macet Indo) sehingga kami dua jam molor dari waktu yang diperkirakan. Ini karena, hari kami berangkat adalah hari pertama long summer holiday-nya UK dan rerata warga Inggris akan menyerbu daerah pantai, dan karena Cornwall ini keindahan pantainya gila banget, maka wajarlah kalau banyak sekali yang memutuskan untuk liburan di sini. Sepanjang perjalanan, mobil kami seringkali bersisian dengan karavan yang diatasnya terikat sepeda, boat, dan tenda. Wuih,, seperti beneran di luar negeri, pemirsah (ahaha.. emang elu sekarang dimana, neng?). Aku juga suka banget sama adab berkendara orang sini, tak ada cerita ngebut geje di jalan. Orang-orang saling bertukar salam (lewat tangan) ketika hendak memberi jalan kepada pengemudi lain, yang juga dibalas lambaian tangan dan senyum manis. Duh, adem deh rasanya.




Destinasi awal kami adalah St. Michael Mount. St, Michael Mount sendiri adalah sebuah pulau di agak-tengah laut, yang memiliki beberapa bangunan tua dan castle megah yang berdiri tegak di puncak bukit. Tempatnya cuantik bangeeett.. Memasuki kawasan ini, bagiku, seperti memasuki negeri dongeng. Saya membayangkan kisah pangeran dan putri dari masa lalu yang pernah terjadi di wilayah ini. Mungkin dulu, dari jendela kastil, ada seorang putri jelita sedang menunggu pangeran berkudanya berderap menujunya. Saling melempar senyum  malu-malu yang sarat akan cinta. Aaaakkk.. so sweeet... Yeah, tempat ini menawarkan imaji masa kecil yang tak pernah benar-benar hilang dari fikiranku. Rupanya sisi romantis itu tetap ada dalam diriku, hehehe..

Pada saat air pasang, cara untuk untuk mencapai kastil ini dari Mazarion Beach adalah dengan menyewa boat. Biayanya sekitar £2 sekali berangkat, artinya PP habis £4. Pada saat kami datang, air kebetulan dalam keadaan surut jadi bisa ditempuh dengan jalan kaki. Ada setapak kecil di tengah laut menuju ke sana. Bau segar laut bercampur aroma rumput laut yang sedikit amis bermain-main dengan indra penciuman kami. Di beberapa sudut, boat yang berlabuh di pinggir pantai mengingatkanku akan kampung halaman. Di sisi lain, beberapa pasangan bergandengan mesra di tepi pantai. Ada juga yang berkejar-kejaran dengan anjing kesayangan mereka. Tak perlu takut kelaperan kalau berkunjung di sini, kedai makan banyak kok. Yang kuperhatikan adalah menu andalannya adalah fish and chips. Karena ini daerah pantai wajar kalau makanan yang ditawarkan tak jauh-jauh dari hasil laut. Si krucils, yang tentu saja tidak puasa sempat dibeliin emaknya makanan dari saah satu kedai ini. Looked tasty, walau menurutku sampai saat ini tak ada yang mengalahkan kuliner pantai di Indonesia. Lobster, cumi dan kepiting bakar yang dinikmati sambil minum kelapa muda segar adalah kenikmatan hakiki. Omaygatt kaan jadi pengen pulang deh kalo ingat ini niih...

Ouuchh, udah panjang aja ini postingan. Pantas capek. Sebenarnya perjalanan hari pertama kita bukan cuman ke tempat ini sih tapi juga ke Minack Theater (yang indahnya paraaaaahhh, sama ke Land's End (ujung daratan Inggris), ke Botallack Mine (reruntuhan bekas pertambangan yang lumayan besar di UK), dan akhirnya ngabuburit di city centernya St. Ives yang bersampingan dengan laut. Semuanya punya kecantikan masing-masing dan tentu saja cerita di masing-masing tempat berbeda. Satu yang sama, kami bahagia, kami merasakan kedekatan yang indah, kami sepakat ini adalah perjalanan yang sangat berharga untuk di kenang. bahkan sampai sekarang pun, aku masih suka melihat foto-foto kami, heheh.. Tempat ini kuberi bintang 4,5 dari 5 (karena tak ada yang sempurna, dan kesempurnaan hanya milik Allah SWT, hehehe). Saran sih, kalau ada rejeki materi dan waktu baiknya kunjungilah tempat ini.









Ini kalau air pasang, jalannya tenggelam.








Akhirulkalam, sampai di sini dulu yaaa... kisah Cornwall ini akan lanjutkan terutama yang mebahas Minack Theater dan tempat lainnya. Kita buat bersambung biar gak bosan, yess???

Ps: Demi apaaa, video yang diupload harus dari YouTube baru mau muncul. Kalo upload yang pake cara biasa ogah nongol videonyaaa T_T,,